Jejak Resonator, Dari Arsitektur Ottoman hingga Ilmu Akustik Modern

Gambar dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI) Dola.

Surabaya, Headlinejatim.com— Resonator yang kini menjadi bagian penting dalam teknologi audio modern ternyata memiliki akar sejarah panjang yang melintasi abad dan peradaban. Jauh sebelum istilah resonansi dikenal dalam fisika, praktik pengelolaan suara telah diterapkan secara nyata oleh Mimar Sinan, arsitek legendaris Kesultanan Ottoman abad ke-16. Pemahaman tersebut kemudian diformalkan secara ilmiah oleh fisikawan Jerman Hermann von Helmholtz pada abad ke-19.

Akustik dalam Arsitektur Ottoman

Mimar Sinan (1489–1588) merupakan kepala arsitek Kekaisaran Ottoman pada masa pemerintahan Sultan Süleyman I dan Sultan Selim II. Sepanjang kariernya, Sinan tercatat merancang lebih dari 300 bangunan, mulai dari masjid, madrasah, jembatan, hingga kompleks sosial. Dua karya monumentalnya, Masjid Süleymaniye di Istanbul (1557) dan Masjid Selimiye di Edirne (1575), hingga kini dikenal memiliki kualitas akustik yang luar biasa.

Kajian arsitektur modern menunjukkan bahwa Sinan menanam bejana tanah liat (acoustic jars) dan rongga udara tersembunyi di balik dinding serta kubah masjid. Struktur ini berfungsi menyerap dan mengendalikan pantulan suara, sehingga lantunan doa dan khotbah dapat terdengar jelas tanpa gema berlebihan di ruang yang sangat luas.

Pendekatan tersebut dilakukan secara empiris, melalui pengamatan dan eksperimen langsung di lapangan, jauh sebelum akustik berkembang sebagai disiplin ilmu tersendiri.

Resonator dalam Perspektif Ilmiah

Tiga abad setelah Sinan, fisikawan Jerman Hermann von Helmholtz (1821–1894) memperkenalkan resonator dalam bentuk instrumen ilmiah. Helmholtz mengembangkan alat berupa rongga dengan leher sempit—yang kemudian dikenal sebagai Helmholtz Resonator—untuk mengidentifikasi dan mengukur frekuensi bunyi tertentu.

Melalui eksperimen ini, Helmholtz menjelaskan hubungan antara frekuensi suara, gelombang bunyi, dan persepsi pendengaran manusia. Temuannya menjadi tonggak penting dalam perkembangan ilmu akustik modern, serta menjadi dasar bagi desain ruang konser, teater, hingga teknologi audio seperti speaker dan mikrofon.

Dua Zaman, Satu Prinsip

Meski hidup di era dan latar belakang berbeda, Mimar Sinan dan Helmholtz memiliki kesamaan tujuan: mengelola resonansi suara agar dapat diterima manusia secara optimal. Sinan membuktikan bahwa pengalaman dan intuisi arsitektural mampu menghasilkan solusi akustik canggih, sementara Helmholtz memperkuatnya dengan pendekatan ilmiah dan matematis.

Sejumlah akademisi menilai bahwa prinsip resonansi yang diterapkan Sinan dalam bangunan Ottoman memiliki kesamaan konsep dengan resonator Helmholtz, meski lahir dari konteks yang berbeda.

Relevansi bagi Dunia Modern

Sejarah resonator menunjukkan bahwa perkembangan sains tidak selalu bermula dari laboratorium. Dalam banyak kasus, praktik arsitektur dan pengalaman empiris menjadi fondasi awal sebelum diformalkan oleh ilmu pengetahuan. Hingga kini, prinsip resonansi masih digunakan dalam perancangan bangunan, teknologi audio, dan sistem komunikasi modern.

Resonator modern sejatinya merupakan kelanjutan dari pengetahuan yang telah dipraktikkan berabad-abad lalu—dari kubah masjid Ottoman hingga riset fisika abad ke-19.

 

Catatan Redaksi :

Artikel ini disusun berdasarkan kajian sejarah arsitektur dan literatur ilmiah akustik. Penulisan dilakukan secara informatif, berimbang, dan mematuhi Kode Etik Jurnalistik.

Related posts