Jagal Pegirian Mogok Massal, RPH Surabaya Pastikan Pasokan Daging Tetap Aman

Fajar Arifianto Isnugroho, Dirut PT RPH Surabaya. (foto:humas Pemkot)

Surabaya, HeadlineJatim.com – Manajemen PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda menjamin pasokan daging sapi di Kota Pahlawan tetap stabil meski sempat terganggu aksi mogok massal para jagal di RPH Pegirian. Ketersediaan daging segar dipastikan terjaga melalui optimalisasi unit RPH Kedurus dan kesiapan RPH Tambak Osowilangun (TOW).

Read More

Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, Fajar Arifianto Isnugroho, menyampaikan permohonan maaf kepada warga Surabaya atas gangguan distribusi yang sempat terjadi.

“Kami memohon maaf kepada masyarakat jika sempat mengalami kesulitan mendapatkan daging segar akibat berhentinya aktivitas pemotongan di Pegirian,” ujar Fajar di Balai Kota Surabaya, Senin (12/1/2026).

Fajar menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Berdasarkan hasil pantauan tim di lapangan, aktivitas pemotongan di RPH unit Kedurus tetap berjalan normal untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Stok daging masih mencukupi. RPH Kedurus tetap beroperasi penuh hari ini. Selain itu, daging sapi bisa didapatkan melalui outlet resmi RPH Surabaya, RPH Surya Mart, serta 11 mitra jagal di pasar tradisional yang disuplai dari Kedurus,” jelasnya.

Menanggapi keresahan para jagal, Fajar kembali meluruskan informasi mengenai rencana relokasi. Ia menegaskan bahwa yang dipindahkan hanyalah aktivitas pemotongan ke RPH Tambak Osowilangun, bukan pusat perdagangannya.

“Perlu dicatat, yang pindah hanya tempat pemotongan. Pasar Daging Arimbi sebagai sentra kulakan tetap beroperasi di lokasi lama, Jalan Arimbi, Pegirian. Jadi, transaksi perdagangan daging tidak berubah tempat,” tegas Fajar.

Sebagai solusi atas keberatan para jagal, manajemen RPH memberikan masa transisi hingga akhir Maret 2026 atau selepas Hari Raya Idulfitri. Selama periode Januari hingga Maret, operasional akan dilakukan secara paralel di dua lokasi.

“Pegirian tetap jalan, dan TOW juga mulai beroperasi. Ini untuk memastikan kesiapan teknis, fasilitas, hingga sertifikasi halal di RPH yang baru benar-benar tuntas,” imbuhnya.

RPH TOW sendiri memiliki kapasitas potong mencapai 150 ekor sapi Brahman Cross dan 80 ekor sapi lokal per hari. Fasilitas ini diklaim lebih modern dengan sistem pengolahan limbah (IPAL) yang jauh lebih maksimal dibandingkan bangunan RPH Pegirian yang sudah berusia hampir satu abad.

Kebutuhan daging sapi di Surabaya mencapai sekitar 40 ton per hari, di mana 20 ton di antaranya dipasok dari RPH Surabaya. Untuk mengantisipasi mogok yang berlarut, RPH Surabaya berencana melakukan pemotongan mandiri dalam sepekan ke depan.

Fajar berharap para jagal Pegirian segera kembali beroperasi. Ia mengingatkan bahwa aksi mogok yang terlalu lama justru dapat merugikan para jagal sendiri karena konsumen berpotensi beralih ke pemasok lain.

“Prioritas kami tetap merangkul jagal lokal Pegirian untuk mengisi RPH TOW. Jika mogok terus berlanjut, pelanggan mereka bisa mencari supplier baru, dan itu akan merugikan bisnis para jagal sendiri,” pungkasnya.

Related posts