SURABAYA, headlinejatim.com —Kebijakan perdagangan Donald Trump yang menerapkan tarif 0% bagi empat negara Asia, Kamboja, Malaysia, Vietnam, dan Thailand, menjadi perhatian serius kalangan dunia usaha di Indonesia. Keputusan tersebut dinilai bukan hanya menyangkut aspek ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik yang akan mengubah arah rantai pasok dan peta perdagangan global, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Wakil Ketua Umum Perdagangan dan Promosi Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim Prof. Tommy Kayhatu, menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar fasilitas dagang biasa, melainkan strategi Amerika Serikat untuk memperkuat pengaruhnya di Asia.
“Tarif 0% sebagai strategi geopolitik dan ekonomi. Kebijakan ini dikemas sebagai bentuk kerja sama ekonomi, tetapi sesungguhnya menjadi soft power untuk menahan ekspansi ekonomi Tiongkok,” ujar Tommy saat kegiatan Talkshow dengan tema “Free Trade atau Political Trap? Membaca Peluang Investasi di Balik Kebijakan Tarif 0% dan Pengaruhnya di Jawa Timur 2025,” Senin (24/11/2025).
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut mendorong relokasi supply chain Asia dari Tiongkok ke negara-negara ASEAN terpilih dan menciptakan ketergantungan ekonomi lebih besar pada pasar Amerika Serikat. Menurutnya, akses tarif diberikan berdasarkan kepentingan strategis, termasuk kepemilikan cadangan rare earth di keempat negara penerima.
“Prioritas tarif ini menjamin pasokan komoditas strategis untuk Amerika, mulai dari industri kendaraan listrik hingga sistem pertahanan,” tambah Prof Tommy.
Dalam konteks Indonesia, Prof Tommy menilai posisi nasional berbeda dengan empat negara penerima fasilitas. Indonesia memiliki tingkat ketergantungan rendah terhadap AS dan kini terhubung kuat dengan blok BRICS serta rantai pasok Tiongkok sehingga tidak menjadi target utama kebijakan tarif 0%. Karena itu, ia menilai strategi yang tepat adalah memanfaatkan peluang tanpa kehilangan independensi politik dan ekonomi.
Selain itu, momentum pertumbuhan industri di negara-negara penerima tarif dianggap dapat menciptakan spillover effect bagi Indonesia, terutama dalam rantai pasok regional. Jawa Timur diprediksi menjadi motor strategis karena memiliki kapasitas manufaktur, pertanian olahan, dan industri pangan yang kuat. Perubahan jalur logistik ASEAN bahkan disebut berpotensi bergeser ke Indonesia melalui pintu Jawa Timur.
Dalam sambutannya mewakili Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kadin Jatim, Tri Prakoso, mengingatkan bahwa kebijakan tarif 0% dapat menjadi ancaman jika negara tidak memiliki fondasi industri yang kuat.
“Kebijakan tarif nol penuh peluang, tetapi juga sarat jebakan. Ia hanya menguntungkan bila negara siap dengan strategi industrialisasi dan ketahanan ekonomi,” tegasnya.
Tri menjelaskan bahwa ketergantungan impor barang strategis, infiltrasi produk asing tanpa perlindungan industri lokal, hingga ketidakseimbangan posisi tawar dalam negosiasi internasional berpotensi melemahkan ekonomi nasional.
“Tanpa penguatan kapasitas teknologi dan kapasitas produksi dalam negeri, tarif nol dapat menghancurkan industri lokal dan membuat negara hanya menjadi pasar konsumen,” lanjutnya.
Ketiga narasumber sepakat bahwa peluang dari kebijakan tarif 0% dapat dioptimalkan jika Indonesia memperkuat daya saing ekspor berbasis nilai tambah, mengembangkan teknologi industri, dan memperluas integrasi rantai pasok regional.
Daerah seperti Jawa Timur pun dinilai memiliki potensi untuk menjadi pusat produksi dan logistik ASEAN jika mampu menarik investasi global secara berimbang antara Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Tiongkok.
Dengan dinamika geopolitik global yang semakin kompetitif, dunia usaha mendorong pemerintah untuk memastikan agar setiap peluang perdagangan internasional memperkuat ekonomi nasional, bukan sebaliknya.
Integrasi global melalui perdagangan bebas kini tidak lagi sekadar urusan tarif, tetapi pertarungan pengaruh, kontrol supply chain, dan penguasaan sumber daya strategis. Indonesia dituntut bergerak cermat agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi tanpa mengorbankan kedaulatan industri dan masa depan pembangunan nasional.
Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Surabaya, Medy Prakoso, tetap optimistis bahwa kebijakan tarif 0% oleh Trump untuk empat negara tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia, khususnya Jatim.
Ia mengatakan, Indonesia dengan Malaysia, Kamboja, Thailand dan Vietnam miliki musim yang sama sehingga produk pertanian yang dihasilkan hampir sama. Tetapi Indonesia tetap unggul di sektor perkebunan seperti karet. Begitu juga dengan produk handycraft dan furniture, masih menjadi idola di Amerika. “Dan yang kita impar dari Amerika adalah barang yang memang tidak kita memiliki dan produksi, seperti pesawat, kapas dan gandum,” terang Medy.
Ia juga mengatakam, Amerika memang menjadi salah satu negara tujuan utama, tetapi bukan nomor satu, masih ada negara andalan lain yang nilai ekspornya lebih tinggi seperti dengan Swiss dan Tiongkok. Kontribusi ekspor ke Amerika di tahun ini mencapi 12,29%, lebih rendah dibanding Tiongkok yang mencapai 12,40% dan Swiss yang mencapai 17,83%.
”Dan saya yakin ekspor kita tidak akan terpengaruh. Justru kebiajakn tersebut akan lebih mempertajam perdagangan Indonesia dengan negara lain karena kita lebih handal dalam perdagangan internasional,” tukasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komite Tetap Perdagangan dan Jasa Luar Negeri Kadin Jatim, Fernanda Reza menambahkan bahwa terdapat 16 perjanjian perdagangan bebas yang masih dalam proses penyelesaian, sebagian besar menunggu tahapan legislasi di DPR. Sementara 18 perjanjian telah diimplementasikan dan dua lainnya dalam proses ratifikasi.
“Proses perundingan perjanjian perdagangan bebas sangat lama, pada umumnya membutuhkan waktu hingga 15 tahun,” pungkasnya.






