SURABAYA, Headlinejatim.com – Perubahan besar tengah disiapkan WhatsApp. Aplikasi pesan instan milik Meta Platforms itu mulai menguji fitur username yang memungkinkan pengguna berkomunikasi tanpa harus membagikan nomor telepon.
Fitur ini masih dalam tahap uji coba terbatas (beta) hingga April 2026. Namun sejumlah laporan menyebutkan peluncuran global akan dilakukan secara bertahap mulai pertengahan tahun ini.
Langkah tersebut dinilai bukan sekadar pembaruan fitur, melainkan perubahan mendasar dalam cara pengguna berinteraksi di ruang digital, dari berbasis nomor telepon menuju identitas digital yang lebih fleksibel.
Selama ini, komunikasi di WhatsApp hampir selalu mengharuskan pengguna membuka nomor pribadi kepada orang lain. Kondisi ini kerap menimbulkan risiko, mulai dari spam hingga penyalahgunaan data.
Dengan hadirnya username, pengguna cukup berbagi nama unik tanpa harus mengungkap nomor telepon. Kontrol terhadap identitas pun menjadi lebih kuat.
Media teknologi TechRadar melaporkan bahwa pengembangan fitur ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada nomor telepon.
“WhatsApp sedang mengembangkan fitur username agar pengguna tidak perlu lagi membagikan nomor telepon mereka,” tulis TechRadar.
Sementara itu, laporan dari WABetaInfo menyebut fitur ini akan meningkatkan perlindungan privasi pengguna.
“Fitur username akan memungkinkan pengguna berkomunikasi tanpa mengungkap nomor telepon, sehingga meningkatkan privasi,” ungkap WABetaInfo.
Username Jadi Aset Digital
Di balik peningkatan privasi, fitur ini juga membuka peluang baru bagi pengguna. Username tidak lagi sekadar identitas, tetapi berpotensi menjadi aset digital yang bisa dimanfaatkan secara ekonomi.
Pengguna dapat membangun identitas yang mudah diingat dan dicari, baik untuk kepentingan personal maupun bisnis. Hal ini membuka peluang bagi pelaku UMKM, kreator konten, freelancer dan profesional.
untuk terhubung langsung dengan audiens tanpa hambatan berbagi nomor.
Peluang Monetisasi dari Chat
Perubahan ini mendorong lahirnya model baru dalam aktivitas ekonomi digital. Percakapan di WhatsApp berpotensi menjadi jalur transaksi langsung.
Pengguna dapat menjual produk atau jasa langsung melalui chat, mengarahkan audiens dari media sosial ke WhatsApp dan membangun layanan berbasis komunikasi personal
Model ini mempercepat pola konten → chat → transaksi, yang sebelumnya berkembang di platform seperti Instagram dan Telegram.
Pakar privasi digital dari ProPrivacy, Ray Walsh, menilai fitur ini akan mengurangi risiko dalam interaksi digital.
“Pengguna seharusnya bisa berinteraksi dengan bisnis tanpa harus menyerahkan nomor telepon mereka,” kata Ray Walsh.
Menurutnya, ketika pengguna merasa lebih aman, interaksi akan meningkat dan membuka peluang ekonomi baru.
Dampak ke Media dan Bisnis
Di sisi lain, perubahan ini juga membawa konsekuensi besar bagi media dan pelaku usaha yang selama ini mengandalkan database nomor telepon.
Distribusi informasi melalui broadcast diperkirakan akan melemah, digantikan oleh interaksi berbasis pilihan pengguna. Audiens tidak lagi pasif menerima, tetapi aktif memilih akun yang ingin dihubungi.
Hal ini memaksa pelaku industri untuk beralih dari strategi berbasis jumlah kontak ke kualitas interaksi dan kepercayaan.
Risiko Akun Palsu
Meski menawarkan banyak manfaat, sistem username juga membuka potensi risiko baru, seperti peniruan identitas dan akun palsu.
Fenomena ini sebelumnya telah terjadi di platform seperti Instagram, di mana perebutan nama akun menjadi persoalan serius.
Karena itu, sistem verifikasi akun diperkirakan akan menjadi fitur penting dalam pengembangan berikutnya.
Jika peluncuran global berjalan sesuai rencana pada pertengahan 2026, maka WhatsApp akan memasuki babak baru sebagai platform komunikasi berbasis identitas digital.
Perubahan ini tidak hanya meningkatkan privasi pengguna, tetapi juga membuka peluang baru dalam membangun relasi dan aktivitas ekonomi.
Dengan demikian, WhatsApp tidak lagi sekadar aplikasi pesan, melainkan ruang interaksi yang berpotensi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital masa depan.






