JEMBER, HeadlineJatim.com – Kelompok pemuda yang tergabung dalam Gayasan Squad di Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, menciptakan inovasi lingkungan dengan mengubah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif. Langkah ini menjadi solusi nyata dalam menekan volume limbah plastik sekaligus menjawab tantangan krisis energi di tingkat lokal.
Inisiatif yang dimotori oleh pemuda Dusun Gayasan, Desa Jenggawah ini bermula dari keprihatinan terhadap tumpukan sampah plastik yang sulit terurai di lingkungan mereka.
Koordinator Gayasan Squad, Ahmad Syaifuddin atau yang akrab disapa Asep, menjelaskan bahwa fokus utama gerakan ini adalah meminimalisir sampah dengan mengambil nilai manfaatnya.
“Kita fokus menyelesaikan masalah sampah di Jember, khususnya di wilayah Gayasan. Kita berinisiatif agar plastik ini minimal bisa dimusnahkan, dan syukur bisa diambil manfaatnya sebagai energi,” ujar Asep saat ditemui di lokasi pengolahan, Sabtu (11/4/2026).
Dalam proses produksinya, para pemuda ini menggunakan metode pirolisis. Sampah plastik kering dibakar di dalam wadah kedap udara selama kurang lebih enam jam dengan suhu 350 hingga 550 derajat Celsius. Uap hasil pembakaran tersebut kemudian didinginkan hingga menjadi minyak mentah.
“Setelah tahap pirolisis, minyak mentah tersebut disuling kembali selama satu jam. Hasilnya berupa solar, premium, dan minyak tanah,” jelas Asep.
Dari setiap 10 kilogram sampah plastik, Gayasan Squad mampu menghasilkan sekitar 9 liter minyak mentah. Komposisi hasil penyulingannya terdiri dari 60 persen solar, 15 persen premium, 10 persen minyak tanah, dan sisanya berupa gas yang sementara ini digunakan kembali sebagai bahan bakar proses peleburan.
Asep menambahkan, meski belum melakukan uji laboratorium secara mandiri, berdasarkan riset literatur yang mereka pelajari, BBM jenis premium dari hasil olahan plastik ini secara teori memiliki angka oktan (RON) yang cukup tinggi, berkisar antara 92,5 hingga 100.
Selain BBM, residu berupa karbon sisa pembakaran juga dimanfaatkan menjadi briket atau bahan kerajinan. Hal ini sejalan dengan moto kelompok mereka, yakni “Sampah adalah Energi”.
Saat ini, hasil produksi BBM alternatif tersebut belum dikomersialkan secara luas. Fokus utama Gayasan Squad masih pada pelestarian lingkungan, sementara hasil BBM dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menggerakkan mesin diesel pertanian dan pompa air.
“Untuk saat ini fokus ke lingkungan dulu. Setidaknya inovasi ini bisa membantu warga sekitar dan mengurangi beban limbah plastik di desa kami,” pungkasnya.






