Kasus Bullying Siswa SMA di Jember Libatkan Pelajar SMP dan SMA, Polisi Masih Dalami Motif
JEMBER – Kasus dugaan perundungan atau bullying yang menimpa seorang siswa kelas 1 SMA di Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai menemui titik terang meski proses penanganannya masih berlangsung.
Peristiwa yang melibatkan sejumlah pelajar lintas jenjang pendidikan ini kini tengah ditangani aparat kepolisian, dengan pendampingan intensif dari berbagai instansi terkait.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian tersebut melibatkan sedikitnya 10 terduga pelaku yang sebagian merupakan siswa SMA di wilayah sekitar Kecamatan Jombang dan Kencong, serta beberapa di antaranya masih berstatus pelajar SMP.
Korban diketahui merupakan siswa dari SMA Ma’arif Jombang, sementara para terduga pelaku disebut bukan berasal dari sekolah yang sama.
Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Dinas Sosial Jember, Sugeng Riyadi, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini fokus pada pendampingan terhadap kondisi psikologis korban maupun para terduga pelaku yang masih di bawah umur.
“Terkait proses hukum, itu nanti dari pihak kepolisian. Tapi kalau kami terkait pendampingan, terutama kondisi psikis korban,” ujarnya.
Sugeng mengungkapkan, proses pendampingan telah dilakukan bersama Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) serta pekerja sosial (peksos). Pendampingan tersebut tidak hanya menyasar korban, tetapi juga para terduga pelaku.
“Untuk para terduga pelaku yang jumlahnya sekitar 10 orang itu, juga sudah kami lakukan pendampingan bersama korban di Polsek Jombang,” katanya saat dikonfirmasi usai pendampingan di Mapolsek Jombang, Kamis (2/4/2026).
Ia menambahkan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jember serta Cabang Dinas Pendidikan (Bakorwil) Jawa Timur, mengingat para pelaku berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda. “Kalau SMP itu di bawah Dispendik, sementara SMA di bawah Bakorwil. Jadi kami lakukan sinergi lintas instansi untuk penanganan kasus ini,” jelasnya.
Terkait kronologi kejadian, Sugeng menyebut dugaan sementara peristiwa ini dipicu oleh persoalan komunikasi melalui pesan suara atau voice note (VN) di ponsel.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa motif utama masih dalam tahap penyelidikan dan belum dapat dipastikan.
“Informasi sementara karena adanya VN lewat HP, tapi untuk kepastiannya masih dalam penyelidikan. Kami belum bisa memastikan karena informasinya masih simpang siur,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sugeng menyampaikan bahwa para terduga pelaku memiliki latar belakang hubungan lama dengan korban. “Yang diinformasikan, dulu pernah satu SMP dengan korban, tapi sekarang sudah tidak satu sekolah,” tambahnya.
Sementara itu, kondisi korban dilaporkan mengalami luka ringan berupa lebam, namun tidak tergolong parah. Meski demikian, dampak psikologis menjadi perhatian utama dalam proses pendampingan.
“Secara fisik ada lebam sedikit, tidak sampai parah. Tapi trauma pasti ada, sehingga kami libatkan juga psikolog dalam pendampingan,” tegas Sugeng.
Di sisi lain, Kanit PPA Satreskrim Polres Jember, Ipda Alfan Febrianto, menyampaikan bahwa penanganan kasus ini masih berada di tingkat Polsek Jombang dan belum dilimpahkan ke Polres.
“Untuk kasus tersebut masih ditangani di Mapolsek Jombang. Kami saat ini hanya melakukan pendampingan dalam proses penyelidikan,” ujarnya singkat.
Hingga kini, aparat kepolisian masih terus mendalami motif serta peran masing-masing pihak dalam kasus tersebut. Sementara itu, sinergi antara kepolisian, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, serta tenaga profesional seperti psikolog terus dilakukan guna memastikan penanganan berjalan komprehensif, terutama karena seluruh pihak yang terlibat masih berstatus anak di bawah umur.






