Dari Dongeng ke Disrupsi Digital, Perebutan Masa Depan Anak dalam Industri Buku yang Tak Lagi Sunyi

SURABAYA, HeadlineJatim.com – Di sebuah kamar anak masa kini, cahaya layar sering kali lebih dominan daripada lampu tidur. Video pendek berganti tanpa jeda, algoritma bekerja tanpa henti. Di tengah arus deras itu, buku anakyang dulu menjadi ritual sebelum lelap, perlahan tersisih.

Namun justru di titik tekanan itulah, buku anak tidak menghilang. Ia bertransformasi—menjadi salah satu sektor paling strategis dalam lanskap literasi sekaligus ekonomi kreatif global.

Warisan Imajinasi, Tantangan Zaman Baru

Sejak abad ke-18, ketika John Newbery mulai menerbitkan buku khusus anak sebagai hiburan, hingga karya-karya Hans Christian Andersen yang sarat emosi dan refleksi, buku anak telah menjadi fondasi pembentukan imajinasi manusia.

Namun di tahun 2026, tantangan terbesar bukan lagi soal bagaimana menciptakan cerita, melainkan bagaimana merebut kembali perhatian anak dari distraksi digital.

Inilah konflik utama era ini antara kedalaman membaca versus kecepatan konsumsi layar.

Di balik geliat industri, indikator global menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor literasi membaca Indonesia berada di angka sekitar 358 poin, jauh di bawah rata-rata global yang berkisar 437 poin.

Berbagai laporan internasional juga mencatat, bahwa Indonesia berada di peringkat bawah dalam minat baca global. Sekitar tiga dari empat anak mampu membaca tetapi belum memahami isi bacaan secara mendalam. Dan, mayoritas siswa masih berada pada level literasi dasar

Sebaliknya, negara seperti Singapura dan Finlandia konsisten berada di kelompok teratas dunia dalam kemampuan membaca anak.

Fenomena ini menegaskan satu paradoks besar, Indonesia tidak kekurangan kemampuan membaca, tetapi kekurangan budaya membaca.

Dengan tingkat melek huruf di atas 96 persen, Indonesia secara statistik tidak mengalami buta huruf. Namun yang terjadi adalah aliterasi, yakni kemampuan membaca tanpa kebiasaan membaca.

Dalam konteks ini, buku anak menjadi krusial. Bukan sekadar media hiburan, tetapi fondasi pembentukan daya focus, empati dan kemampuan berpikir kritis

Karena pada fase usia dini, interaksi dengan teks akan membentuk pola kerja otak jangka panjang.

Antara Layar dan Halaman, Pertarungan Kognitif Generasi

Platform digital menawarkan stimulasi instan (cepat, singkat, dan adiktif).

Sebaliknya, buku menuntut kesabaran untuk membaca perlahan, membayangkan, dan memahami.

Perbedaan ini menciptakan perubahan mendasar. Anak semakin terbiasa scanning, bukan deep reading. Jika dibiarkan, pergeseran ini berpotensi menurunkan kemampuan analisis kompleks di masa depan.

Di sinilah buku anak tidak lagi sekadar alternatif, melainkan alat resistensi terhadap pendangkalan cara berpikir.

Negara Turun Tangan, Buku sebagai Infrastruktur SDM

Dalam konteks industri, Teuku Riefky Harsya menempatkan buku anak sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif nasional.

Dalam kapasitasnya sebagai otoritas kebijakan sektor ekonomi kreatif, ia menegaskan:

“Buku anak hari ini adalah bagian dari industri berbasis kekayaan intelektual. Nilainya tidak berhenti di buku, tetapi bisa berkembang menjadi animasi, gim, hingga produk turunan lain yang berdaya saing global.”

Pernyataan ini menandai pergeseran penting, bahwa buku anak bukan lagi sekadar produk literasi, tetapi aset ekonomi berbasis ide.

Dari sudut pandang tumbuh kembang anak, Dadan Hindayana melihat literasi sebagai bagian dari stimulasi kognitif.

Dalam kapasitasnya sebagai otoritas di bidang gizi dan perkembangan anak, ia menekankan:

“Pada masa golden age, anak membutuhkan stimulasi yang tepat untuk membentuk jaringan otak. Buku adalah salah satu medium penting yang membantu perkembangan tersebut, melengkapi kebutuhan gizi fisik.”

Pendekatan ini memperluas makna literasi. Bukan hanya soal membaca, tetapi bagian dari pembangunan kualitas manusia sejak dini.

Industri yang Tumbuh di Tengah Tekanan

Data Ikatan Penerbit Indonesia mencatat bahwa permintaan buku anak di Indonesia meningkat sekitar 12% pada 2026.

Pertumbuhan ini terjadi di tengah dominasi digital menunjukkan adanya kesadaran baru orang tua, upaya mengurangi screen time dan pergeseran kembali ke aktivitas membaca

Di sisi lain, industri juga beradaptasi terhadap integrasi teknologi seperti augmented reality, pengembangan e-book interaktif dan produksi ramah lingkungan

Menariknya, kekuatan buku anak Indonesia justru terletak pada akar budayanya.

Cerita rakyat dari berbagai daerah mulai dikemas ulang dengan pendekatan modern. Yakni, visual kontemporer, narasi inklusif dan integrasi nilai global

Model ini mengikuti formula industri kreatif global, yakni konten lokal dengan standar internasional.

Jika dikelola dengan tepat, buku anak Indonesia berpotensi menjadi komoditas ekspor berbasis budaya.

Saat ini, pertarungan antara buku dan layar bukan sekadar soal preferensi media.

Melainkan pertarungan tentang cara berpikir, kedalaman pemahaman dan arah masa depan generasi

Layar menawarkan kecepatan, buku menawarkan kedalaman.

Dan di dunia yang semakin cepat, justru kedalaman itulah yang menjadi penentu.

Karena pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak anak membaca, melainkan seberapa dalam mereka memahami dunia dari apa yang mereka baca.

 

SUMBER DATA & REFERENSI

OECD – Programme for International Student Assessment (PISA) 2022

UNESCO & Central Connecticut State University – Global Reading Interest Study

Ikatan Penerbit Indonesia – Data industri penerbitan 2025–2026

Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS)

World Economic Forum – Global Human Capital & Education Insights

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI (rilis literasi nasional)

Related posts