Tim Gabungan saat melakukan kordinasi untuk melakukan pencarian korban.(Istimewa)
JEMBER, HeadlineJatim.com– Suasana libur Lebaran Ketupat di Pantai Papuma, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, berubah menjadi duka. Seorang guru ngaji asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dilaporkan hilang setelah tersapu ombak besar saat sedang berswafoto pada Sabtu (28/3/2026) pagi.
Korban diketahui bernama Muhammad Sheva Yusuf (22), warga Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Cianjur. Korban yang juga dikenal sebagai mubaligh ini sedang berlibur bersama rombongan temannya dan mendirikan tenda di pesisir selatan Jember tersebut sejak Jumat sore.
Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 06.45 WIB di bawah tebing Gunung Setinggil. Lokasi ini dikenal sebagai titik ekstrem dengan karakter ombak besar dan sebenarnya telah dipasangi rambu larangan melintas bagi wisatawan.

Rekan korban, Fabe Satria Nagitara (21), menceritakan bahwa sesaat sebelum kejadian, korban mengajak lima temannya untuk bermain air dan mencari spot foto di atas batu karang. Meski Fabe sempat melarang karena merasa firasat buruk, korban tetap menuju ke arah laut.
“Saya lari mengingatkan karena air mulai pasang, tapi mereka sudah di atas karang. Korban sedang duduk berpose, tiba-tiba ombak besar datang menerjang,” tutur Fabe dengan nada lirih.
Sempat Berusaha Berenang Sebelum Hilang
Menurut saksi mata, korban sempat terlihat berusaha berenang melawan arus selama sekitar tiga menit. Namun, tak berselang lama, ombak kedua yang lebih besar datang dan menyeret tubuh pemuda tersebut lebih jauh ke tengah laut.
“Setelah ombak kedua, korban terseret sekitar lima meter dari karang dan langsung hilang dari pandangan,” tambah Fabe.
KBO Satpolairud Polres Jember, Aiptu Agus Riyanto, mengonfirmasi bahwa sebenarnya ada tiga pemuda yang tersapu ombak dalam insiden tersebut. Namun, dua rekan korban berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan kuat pada batu karang.
“Tiga orang tersapu, dua selamat dan satu orang (Sheva) masih dalam pencarian. Mereka memasuki area bawah Setinggil yang sudah jelas ada rambu larangan karena sangat berbahaya,” tegas Agus.
Pencarian Intensif Tim SAR Gabungan
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari Satpolairud, Polsek Wuluhan, Basarnas, SAR Rimba Laut, hingga Relawan Brandal Alas terus melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Fokus pencarian dilakukan dalam radius titik laka dengan pemantauan intensif di permukaan laut.
“Sesuai prosedur, operasi pencarian akan dilakukan hingga tujuh hari ke depan jika hari ini belum membuahkan hasil,” jelas Aiptu Agus.
Pihak kepolisian kembali mengimbau kepada seluruh wisatawan agar tidak mengabaikan rambu keselamatan, terutama di kawasan Pantai Selatan yang memiliki karakteristik ombak yang tidak terduga, demi menghindari tragedi serupa terulang kembali.






