Mengenal Filosofi Lebaran Kupat, Makna Mendalam di Balik Hidangan Ketupat dan Lepet

Ilustrasi oleh tim grafis.

SURABAYA, HeadlineJatim.com– Sepekan setelah gema takbir Idulfitri berlalu, masyarakat di berbagai penjuru Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, kembali bersiap merayakan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Lebaran Ketupat. Perayaan ini bukan sekadar ajang makan bersama, melainkan simbol pungkasan dari ibadah puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Read More

​Tradisi ini diyakini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah Islam yang adaptif terhadap budaya lokal. Melansir dari situs resmi Nahdlatul Ulama (NU Online), Lebaran Ketupat merupakan simbol harmonisasi antara syariat agama dan kearifan lokal.

Filosofi Ketupat Mengaku Salah dan Menghapus Dosa

​Ketupat bukan sekadar pengganti nasi. Kata “Ketupat” atau “Kupat” dalam filosofi Jawa memiliki arti “Ngaku Lepat” (mengaku bersalah) dan “Laku Papat” (empat tindakan).

​Melansir jurnal ilmiah berjudul “Simbolisme Ketupat sebagai Representasi Budaya Jawa” yang diterbitkan dalam Jurnal Kebudayaan dan Sastra, empat tindakan (Laku Papat) tersebut meliputi:

  1. Lebaran: Usai atau habis, menandakan berakhirnya bulan puasa.
  2. Luberan: Meluber atau melimpah, simbol ajakan bersedekah bagi fakir miskin.
  3. Leburan: Habis dan melebur, momen saling memaafkan dosa satu sama lain.
  4. Laburan: Berasal dari kata kapur putih, simbol kembali suci dan bersihnya hati manusia.

​Anyaman janur yang rumit pada ketupat juga dimaknai sebagai kerumitan kesalahan manusia, namun saat dibelah, bagian dalamnya yang putih bersih melambangkan kesucian hati setelah bermaaf-maafan.

Makna Lepet Jangan Sampai Terlepas

​Sebagai pendamping setia ketupat, hadir pula Lepet. Kudapan berbahan dasar ketan ini dibungkus janur dan diikat dengan tali bambu. Secara etimologi, Lepet berasal dari frasa Jawa “Silep Kang Rapet” yang berarti “tutuplah dengan rapat“.

​Filosofinya adalah setelah melakukan ngaku lepat (mengaku salah), maka kesalahan tersebut hendaknya ditutup rapat-rapat agar tidak diulangi kembali di masa depan. Ikatan tali pada lepet juga melambangkan eratnya jalinan silaturahmi antar-sesama.

Ragam Nama Lebaran Ketupat di Nusantara

​Meski berpusat di tanah Jawa, tradisi ini memiliki sebutan yang beragam di berbagai wilayah Indonesia:

  • Kupatan: Populer di wilayah Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Lamongan) dan Jawa Tengah.
  • Bada Kupat: Sebutan lazim di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
  • Tallua: Di wilayah Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar), terdapat tradisi serupa yang disebut Tallua atau merayakan hari kedelapan Syawal.
  • Lebaran Topat: Tradisi masyarakat Sasak di Lombok, NTB, yang dirayakan dengan melakukan ziarah makam dan makan bersama di pinggir pantai.

​Hingga saat ini, Lebaran Ketupat terus lestari sebagai jembatan spiritual dan sosial, mengingatkan umat manusia untuk selalu rendah hati dalam mengakui kesalahan dan menjaga kerukunan dalam keberagaman.

Related posts