SURABAYA, HeadlineJatim.com – Pukul enam pagi, ketika sebagian kota masih setengah terjaga, suara bola kecil yang dipukul bergantian mulai memecah sunyi di sebuah lapangan indoor di kawasan Gubeng.
Empat orang saling berbalas pukulan. Ringan, cepat, sesekali diselingi tawa. Tidak ada teriakan keras seperti futsal, tidak pula kesunyian seperti gym. Ada ritme yang hidup dan terasa akrab.
Di Sanalah Padel Menemukan Momentumnya.
Usai Lebaran 2026, olahraga ini seperti mendapat panggung baru. Lapangan-lapangan di Surabaya mendadak padat, bahkan sejak pagi hari.
Fenomena ini bukan kebetulan. Dalam beberapa tahun terakhir, padel memang tumbuh pesat di kota-kota besar Indonesia, termasuk Surabaya, seiring menjamurnya fasilitas dan meningkatnya minat masyarakat urban.
Lebaran selalu membawa cerita yang sama: makanan berlimpah, waktu istirahat panjang, dan pola hidup yang sedikit longgar. Namun setelah itu, tubuh “menagih”.
Banyak pekerja di Surabaya mulai kembali mencari keseimbangan. Olahraga menjadi pilihan, tapi tidak semua cocok dengan rutinitas berat.
Padel Hadir Sebagai Jalan Tengah.
Olahraga ini mudah dipelajari, dimainkan berpasangan, dan tidak menuntut teknik serumit tenis. Karakter itulah yang membuatnya cepat diterima berbagai kalangan, termasuk pemula.
Filari Padel, Ruang Baru di Tengah Kota
Di Jalan Ngagel Timur, Gubeng, Filari Padel menjadi salah satu titik yang kini ramai diserbu.
Beroperasi sejak 23 Februari 2026, tempat ini buka setiap hari pukul 06.00 hingga 22.00 WIB.
Dion Dwi Pangestu, staf Filari Padel, menyebut antusiasme masyarakat sudah terlihat sejak awal.
“Waktu soft opening, dalam sehari bisa sampai lima gelombang penyewa,” ujarnya.
Dengan harga sewa Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per jam, pengunjung mendapatkan fasilitas lengkap mulai dari parkir luas, ruang ganti, shower, hingga tribun penonton.
Tak hanya itu, tersedia musholla, kantin minuman sehat, area istirahat, hingga fasilitas pengisian kendaraan listrik. Detail yang membuat olahraga ini terasa sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar aktivitas fisik. “Grand opening dijadwalkan April 2026. Tentunya kami akan banyak kejutan untuk pecinta olah raga padel di Surabaya,” ujar Dion.
Bagi Ikhsanurrahman, Manager Aset Properti dan Umum PLN UID Jawa Timur, padel bukan sekadar tren sesaat.
“Padel itu sekarang jadi tren di Indonesia. Karena indoor, bisa dimainkan di segala cuaca. Waktunya juga fleksibel,” ujarnya.
Ia menilai ukuran lapangan yang lebih kecil membuat permainan terasa lebih santai dan enjoyable, terutama untuk dimainkan bersama komunitas.
“Effort-nya lebih ringan, jadi lebih enjoy. Bisa pagi, siang, atau sore, selama tidak mengganggu kewajiban pekerjaan dalam melayani masyarakat.”
Padel, dalam konteks ini, menjadi olahraga yang tidak “mengganggu hidup”—justru menyatu dengan rutinitas harian.
Di sisi lapangan, Ghea dan Jely baru saja menyelesaikan satu set permainan.
“Seru, bisa ketemu teman baru. Jadi bukan cuma olahraga,” ujar mereka.
Padel memang membawa dimensi sosial yang kuat. Permainan berpasangan menciptakan interaksi yang intens dan sering kali berlanjut menjadi relasi di luar lapangan.
Fenomena ini yang membuat padel berkembang bukan hanya sebagai olahraga, tetapi juga sebagai ruang komunitas.
Martasyah, warga Surabaya lainnya yang juga bekerja di salah satu perusahaan BUMN yang berlokasi di surabaya, memilih bermain di Filari Padel bukan tanpa alasan.
“Fasilitasnya lengkap. Ada musholla, toilet bersih, tempat istirahat, sampai charging. Parkir juga luas,” katanya.
Bagi masyarakat kota, kenyamanan menjadi faktor penting. Olahraga tidak lagi berdiri sendiri, tetapi hadir bersama pengalaman.
Padel kini berada di persimpangan: antara tren dan kebutuhan.
Di satu sisi, popularitasnya melonjak cepat, ditandai dengan bertambahnya lapangan dan komunitas di berbagai titik kota.
Di sisi lain, ia menawarkan sesuatu yang relevan dengan kehidupan urban: fleksibilitas, interaksi sosial, dan efisiensi waktu.
Di lapangan pagi itu, pertanyaan apakah padel hanya tren terasa tidak terlalu penting.
Yang terlihat justru hal sederhana:
orang-orang kembali bergerak, berkeringat, dan menemukan cara baru untuk menjaga keseimbangan hidup.
Dan mungkin, dari situlah gaya hidup baru sedang terbentuk—pelan, tapi pasti.






