Tradisi 2 Syawal Warga Bunder Banyuwangi ‘Lebaran’ di Makam, Bawa Tumpeng hingga Kopi

Warga sedang berdoa sambil membawa sejumlah makanan di komplek pemakaman. (Foto: Eko Purwanto)

Banyuwangi, HeadlineJatim.com- Suasana tak biasa terlihat di komplek pemakaman Desa Bunder, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Minggu (22/3/2026). Sejak pagi sekitar pukul 06.00 WIB, ratusan warga berdatangan dengan busana rapi layaknya hari raya untuk mengikuti tradisi turun-temurun yang dikenal sebagai “Lebaran Makam”.

Read More

Warga datang silih berganti sambil membawa berbagai perlengkapan, mulai dari bunga tabur, kue Lebaran, makanan khas, hingga cangkir kopi. Setibanya di makam keluarga, mereka langsung menggelar tikar, duduk bersila, lalu memanjatkan doa dengan membaca Yasin dan tahlil.

Usai doa bersama, suasana berubah hangat. Warga terlihat bercengkerama, bahkan makan bersama di area pemakaman. Tradisi ini digelar setiap tanggal 2 Syawal dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Suasana aktifitas warga makan di makam.(Foto: Eko Purwanto)

Kepala Desa Bunder, Samirin, mengatakan tradisi Lebaran Makam sudah berlangsung secara turun-temurun dan tetap lestari hingga sekarang. “Ini tradisi peninggalan leluhur yang terus kami jaga. Setiap Lebaran hari kedua, warga berkumpul di makam untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal,” ujarnya.

Menurut Samirin, tradisi ini bukan sekadar ziarah, melainkan juga ajang mempererat hubungan sosial. “Di sini bukan hanya doa, tapi juga silaturahmi. Warga bisa saling bertemu, berjabat tangan, bermaaf-maafan, dan berkumpul dalam suasana kekeluargaan,” katanya.

Ia menjelaskan, kebiasaan membawa makanan ke makam memang sudah menjadi bagian dari tradisi. “Memang sengaja bawa makanan karena ada selamatan. Biasanya warga makan tumpeng bersama di area makam, itu sudah jadi kebiasaan dari dulu,” jelasnya.

Samirin menilai, nuansa kebersamaan justru menjadi daya tarik utama tradisi ini. “Yang membuat berbeda, suasananya meriah tapi tetap khidmat. Jadi ada keseimbangan antara doa dan kebersamaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebut tradisi ini selalu dirindukan oleh warga perantau asal Desa Bunder. “Banyak warga kami yang merantau ke luar daerah seperti Bali, Kalimantan, Papua, Jakarta, dan lainnya. Mereka selalu menyempatkan pulang saat Lebaran untuk ikut tradisi ini,” kata Samirin.

“Bahkan bisa dibilang, pulang kampung terasa belum lengkap kalau belum ikut Lebaran Makam,” tambahnya.

Setelah rangkaian doa dan makan bersama di pemakaman, warga biasanya melanjutkan kegiatan ke kantor desa. Di sana, suasana semakin meriah dengan pesta petasan yang dinyalakan secara bergantian.

“Itu juga sudah jadi bagian dari tradisi. Setelah dari makam, warga berkumpul lagi di balai desa untuk meramaikan suasana Lebaran,” ujar Samirin.

Ia berharap tradisi ini tetap terjaga di tengah perubahan zaman. “Harapan kami, generasi muda tetap melestarikan tradisi ini karena ini bukan hanya budaya, tapi juga sarana mempererat persaudaraan,” pungkasnya.

Related posts