Khidmat, 2.000 Umat Hindu di Sidoarjo Jalani Tawur Agung Nyepi 2026 di Tiga Pura

Pawai ogoh-ogoh di Pura Jala Sidhi Amerta, Sidoarjo. (Foto:Fariz)

Sidoarjo, HeadlineJatim.com– Perayaan Hari Raya Nyepi 2026 di Kabupaten Sidoarjo berlangsung khidmat. Ribuan umat Hindu memadati tiga pura utama untuk melaksanakan ritual Tawur Agung sebagai rangkaian menuju puncak Catur Brata Penyepian, Selasa (17/3/2026).

Read More

Ratusan umat tampak khusyuk mengikuti prosesi persembahyangan dengan tertib, menciptakan suasana religi yang kental di tengah keberagaman masyarakat Sidoarjo.

Kehadiran Umat Meningkat di Tiga Pura

Humas Pura Jala Sidhi Amerta, I Gusti Agung Cok, mengungkapkan bahwa pelaksanaan ibadah tahun ini berjalan sangat lancar meskipun bertepatan dengan periode libur panjang. Antusiasme umat untuk beribadah secara berjemaah tetap tinggi di seluruh lokasi.

“Perayaan berjalan sangat baik. Umat yang hadir cukup banyak dan tersebar merata di tiga pura yang ada di Sidoarjo,” ujar I Gusti Agung Cok saat dikonfirmasi di lokasi kegiatan.

Berdasarkan data panitia, total umat yang mengikuti rangkaian Tawur Agung di seluruh wilayah Sidoarjo mencapai sekitar 2.000 orang. Khusus di Pura Jala Sidhi Amerta, tercatat sebanyak 460 umat hadir mengikuti prosesi tersebut.

Filosofi Ogoh-ogoh Nyi Rimbit

Salah satu momen yang paling menarik perhatian adalah pengarakan ogoh-ogoh hasil kreasi generasi muda Hindu Sidoarjo. Tahun ini, ogoh-ogoh yang ditampilkan mengangkat tema sosok “Nyi Rimbit”.

I Gusti Agung Cok menjelaskan bahwa Nyi Rimbit memiliki makna filosofis mendalam sebagai simbol godaan atau manifestasi hal-hal negatif dalam kehidupan manusia.

“Makna ogoh-ogoh Nyi Rimbit ini merupakan pengingat agar umat mampu mengendalikan diri dari berbagai pengaruh buruk dan nafsu duniawi,” jelasnya.

Momentum Refleksi dan Toleransi

Melalui perayaan Nyepi tahun ini, umat diharapkan dapat meningkatkan kualitas bakti dan menjalankan Catur Brata Penyepian—yakni Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelunganan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Ia juga menekankan pentingnya menjaga harmoni di tengah masyarakat Surabaya dan Sidoarjo yang majemuk.

“Kami berharap umat dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk serta terus konsisten menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Jawa Timur,” pungkasnya.

Related posts