Ampel “Meledak” di 10 Hari Terakhir Ramadan, I’tikaf hingga STMJ Diserbu

Surabaya, HeadlineJatim.com – Pukul 01.17 WIB, ketika sebagian besar kota mulai terlelap, kawasan Ampel justru berada di titik paling hidupnya.

Langkah manusia tak pernah berhenti. Dari pintu masuk hingga lorong sempit Ampeldenta, arus peziarah terus bergerak tanpa jeda. Saling berpapasan, saling menghindar, kadang terhenti karena padatnya jalan. Malam itu, Selasa (17/3/2026), bukan malam biasa.

Read More

Ini adalah malam likuran, malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan, yang sejak lama diyakini sebagai waktu paling istimewa untuk mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan

Tradisi likuran sendiri telah hidup dalam budaya masyarakat Jawa sebagai penanda dimulainya fase paling sakral di penghujung Ramadan, ketika ibadah ditingkatkan dan doa-doa dipanjatkan tanpa henti

Sejak awal memasuki kawasan Masjid Sunan Ampel, suasana sudah terasa berbeda. Jalanan penuh, kendaraan meluber, dan manusia seperti tak habis-habis berdatangan. Di dalam masjid, hampir tak ada ruang tersisa. Jamaah duduk berimpitan, sebagian bersandar di tiang, sebagian lain bertahan di sudut-sudut sempit.

Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berzikir pelan, ada pula yang hanya terdiam—seolah sedang berbicara langsung dengan Tuhan dalam sunyi yang paling dalam.

Di area makam Sunan Ampel, suasana terasa lebih khusyuk. Ratusan orang duduk bersila. Lantunan Yasin dan tahlil saling bersahutan, membentuk gema panjang yang tak terputus. Mereka datang untuk mengirim doa kepada para waliyullah dan kekasih Allah yang dimakamkan di kawasan Ampeldenta.

Namun hanya beberapa langkah keluar dari masjid, suasana berubah drastis. Lorong Ampeldenta menjelma menjadi pasar hidup yang tak pernah tidur. Lampu-lampu menyala terang, pedagang berjejer tanpa celah, suara tawar-menawar bercampur dengan aroma rempah yang kuat. Kurma berbagai jenis ditumpuk tinggi, roti maryam dipanggang langsung di depan pembeli, kebab dan nasi kebuli berpindah tangan dengan cepat.

Parfum khas Timur Tengah, tasbih, baju muslim, hingga perhiasan menjadi buruan para pengunjung yang ingin membawa pulang “sebagian Ampel”.

Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu titik yang tak pernah sepi. Sebuah kedai sederhana dengan asap mengepul tanpa henti.

Di situlah Abah Nadjib berdiri. Sejak sekitar tahun 2006, ia berjualan di kawasan ini. Hampir 20 tahun ia bertahan, meracik STMJ (susu, telur, madu, dan jahe) yang dikenal kuat dan menghangatkan tubuh seketika.

Tak ada papan besar. Tak ada promosi mencolok. Tapi namanya hidup dari cerita ke cerita.

Bagi banyak jamaah, STMJ Abah Nadjib bukan sekadar minuman. Ini adalah ritual sebelum masuk ke dalam masjid untuk i’tikaf.

Namun Ramadan tahun ini terasa berbeda baginya.

“Kalau dibanding tahun lalu, memang agak turun pengunjungnya,” ujarnya.

Ia mengatakannya jujur. Tanpa ditutup-tutupi. Namun kata berikutnya justru lebih kuat.

“Ya, sehari masih bisa dapat omset kisaran satu juta rupiah lah. Alhamdulillah…”

Di tengah riuh Ampel, itu bukan sekadar angka. Itu adalah rasa syukur.

Di antara antrean STMJ, berdiri Achmad Afif, warga Surabaya Timur yang hampir tak pernah melewatkan malam likuran di Ampel. Ia datang setiap tahun, dengan satu kebiasaan yang tak berubah.

“Belum sah ke Ampel kalau belum STMJ dulu,” katanya sambil tersenyum.

Baginya, STMJ bukan hanya minuman.

“Ini tenaga. Biar kuat i’tikaf sampai subuh,” ujarnya.

Malam itu, ia juga tengah menunggu seseorang yang sangat ia hormati. Iya, sosok tersebut adalah KH. MUSLICH ABBAS, SH, Pengasuh PP Salafiyah Fatchul Ulum Pacet, yang juga seorang Khotib dan Imam masjid Agung Sunan Ampel sekaligus Ketua Rais Syuriah PCNU Kab.Mojokerto.

Keduanya berencana menghabiskan malam bersama—beri’tikaf, berzikir, dan mengirim doa.

“Kami mau i’tikaf bareng, kirim doa bareng. Ini momen yang nggak pernah saya lewatkan,” kata Afif.

Tak jauh dari sana, antrean lain juga terlihat panjang. Beberapa jamaah berkumpul di sekitar gentong-gentong air. Mereka bergantian mengambil air, meminumnya langsung, atau memasukkannya ke dalam botol untuk dibawa pulang.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya air biasa.

Namun bagi yang lain, ini adalah bagian dari keberkahan yang ingin mereka bawa pulang dari Ampel.

Waktu terus berjalan. Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB.

Di banyak sudut kota, lampu mulai padam. Tapi di Ampel, kehidupan justru belum mencapai puncaknya.

Masjid masih penuh.

Doa masih mengalir.

Pedagang masih melayani.

STMJ masih mengepul.

Dan manusia, masih terus datang.

Ampel seperti menolak tidur. Di tempat ini, 10 hari terakhir Ramadan bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah momentum. Tentang manusia yang datang membawa harapan, tentang doa yang dipanjatkan tanpa lelah, dan tentang keyakinan bahwa di salah satu malam ini, langit benar-benar terbuka.

Dan ketika fajar nanti datang, banyak yang akan pulang dengan langkah yang sama—namun hati yang berbeda.

Related posts