Perang AS–Israel–Iran Bikin Tiket Pesawat Melonjak, Mahasiswa Timur Tengah di Surabaya Batal Mudik Lebaran

Surabaya, HeadlineJatim.com – Konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah berdampak hingga ke Indonesia. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat sejumlah mahasiswa asal Timur Tengah di Surabaya terpaksa membatalkan rencana mudik Lebaran.

Lonjakan harga tiket pesawat hingga gangguan penerbangan internasional menjadi alasan utama mereka memilih tetap tinggal di Indonesia saat Idulfitri 1447 Hijriah.

Read More

Salah satunya adalah Khusay, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya asal Yaman yang sedang menempuh studi di jurusan Teknik Informatika.

Ia mengaku situasi perang membuat penerbangan menuju negaranya sangat sulit, sementara harga tiket melonjak tajam.

“Selama waktu ini perang pecah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Jadi kami tidak bisa kembali ke Yaman, karena tiket pesawat harganya sangat tinggi dan tidak ada penerbangan terdekat untuk kembali ke Yaman,” ujarnya di Surabaya, Minggu (15/3/2026).

Keluarga Minta Tetap di Indonesia

Khusay sebenarnya memiliki keluarga besar yang tinggal di Mesir. Namun kondisi keamanan yang tidak menentu membuat keluarganya menyarankan agar ia tetap berada di Indonesia.

“Orang tua saya bilang tetap di Indonesia. Saya ke sini untuk satu tujuan, yaitu belajar. Jadi apa pun situasinya harus tetap fokus melanjutkan studi,” katanya.

Situasi keluarganya juga tidak mudah. Sang ibu bahkan masih berada di Yaman saat konflik mulai pecah.

“Beliau sedang di Yaman saat perang dimulai. Jadi situasinya memang sulit,” tambahnya.

Hal serupa juga dialami Abdurrahman Khalid, mahasiswa Teknik Mesin dari Yaman yang juga kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Ia mengatakan harga tiket penerbangan ke Timur Tengah melonjak drastis selama konflik berlangsung.

“Selama masa perang ini, tiket untuk kembali ke negara saya naik sekitar tiga atau empat kali lipat,” ujarnya.

Selain mahal, sejumlah jalur penerbangan internasional juga terganggu. Bandara transit utama di kawasan Teluk seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar ikut terdampak oleh situasi keamanan di kawasan.

Akibatnya, perjalanan menuju Timur Tengah menjadi semakin sulit dan tidak menentu.

Meski memiliki keluarga di Jeddah, Arab Saudi, Abdurrahman memutuskan tidak pulang tahun ini.

Selain faktor perang dan mahalnya tiket, jadwal kuliah juga menjadi pertimbangan.

“Saat ini saya masih ada banyak kelas, saya tidak bisa pulang. Intinya ada banyak alasan yang melatarbelakanginya tak pulang, ada perang, harga tiket mahal dan durasi libur tidak panjang,” katanya.

Akhirnya, Abdurrahman bersama Khusay serta beberapa mahasiswa asal Timur Tengah lainnya yang tinggal di asrama memilih merayakan Idulfitri di Indonesia.

Di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah, mereka memilih bertahan di Surabaya dan tetap fojkus melanjutkan stud

Related posts