Awalnya Cuma Candaan ‘Kopi Wong Picek’, Kini Jadi Brand Kopi Viral dari Surabaya

Aswa Ripul barista kopi cek.

“Barista tunanetra di Surabaya racik kopi dengan metronome di headset, hitung detik seduhan tanpa melihat”

Surabaya, HeadlineJatim.com – Sebuah candaan sederhana di antara teman-teman tunanetra di Surabaya ternyata berubah menjadi sebuah brand kopi yang mulai dikenal banyak orang.

Candaan itu berbunyi ringan, bahkan sedikit nyeleneh: “kopi wong picek.”

Dalam bahasa Suroboyoan, istilah tersebut merujuk pada kondisi tunanetra. Awalnya hanya gurauan saat berkumpul bersama, tanpa pernah benar-benar dibayangkan akan menjadi usaha sungguhan.

Namun dari candaan itulah lahir sebuah brand bernama Kopi Cek, sebuah usaha kopi yang dirintis oleh anggota Komunitas Mata Hati Surabaya.

Di balik brand tersebut ada kisah perjuangan seorang barista tunanetra bernama Aswa Ripul, yang meracik kopi dengan cara yang tidak biasa.

Tanpa melihat, ia menghitung waktu seduhan kopi hanya dari irama metronome yang terdengar di headsetnya.

 

Meracik Kopi dengan Hitungan Irama

Saat menyeduh kopi, Aswa Ripul yang akrab disapa Ipung—selalu memasang headset di telinganya.

Di dalamnya terdengar ketukan metronome yang stabil.

Tok… tok… tok…

Ketukan itulah yang menjadi penanda waktu untuk proses ekstraksi kopi.

Dengan metode tersebut, Ipung dapat memastikan setiap seduhan kopi memiliki durasi yang konsisten, meski ia tidak dapat melihat jam maupun layar mesin kopi.

“Biasanya saya pakai headset dan mendengarkan ketukan metronome. Dari situ saya menghitung waktunya agar prosesnya konsisten dari awal sampai akhir,” kata Ipung.

Cara ini ia temukan karena mesin kopi yang digunakan masih manual.

Artinya, seluruh proses harus dinyalakan dan dimatikan secara tepat waktu.

“Kalau alat yang lebih mahal sebenarnya bisa diatur otomatis,” ujarnya.

 

Berawal dari Tes Rasa

Ipung merupakan anggota Komunitas Mata Hati Surabaya, sebuah komunitas tunanetra yang mencoba membangun usaha kopi secara mandiri sejak 2022.

Pada awalnya mereka tidak langsung meracik kopi.

Peran Ipung dan teman-temannya hanya membantu tes rasa untuk memastikan kopi yang dibuat relawan tetap sesuai standar.

“Awalnya kami menjual Americano karena ada permintaan. Kemudian kami mencoba mengembangkan usaha ini,” ujar Ipung.

Baru sekitar dua tahun terakhir ia benar-benar mulai belajar meracik kopi secara langsung.

 

Titik Balik dari Pelatihan

Perjalanan usaha kopi tersebut mulai berubah pada 2024.

Saat itu komunitas mendapatkan dukungan pelatihan serta mesin kopi melalui program dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bersama Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Bantuan tersebut membuka peluang baru bagi para anggota komunitas untuk terlibat langsung dalam proses produksi.

“Kami mendapat bantuan mesin dan pelatihan penggunaannya. Dari situ kami melihat ternyata teman-teman tunanetra juga bisa melakukannya,” kata Ipung.

Sejak saat itu mereka terus melakukan berbagai pengujian dan pengembangan racikan kopi.

 

Dari Candaan Jadi Identitas Brand

Nama Kopi Cek sendiri lahir dari candaan salah satu pendiri komunitas yang kini telah meninggal dunia.

Saat berkumpul, ia pernah berkelakar ingin membuka warung kopi bersama teman-temannya.

Kala itu muncul istilah “kopi cek – kopi wong picek.”

Namun seiring perjalanan usaha ini, istilah tersebut diubah agar memiliki makna yang lebih positif.

“Kami ubah menjadi Kopi Cek, artinya cek rasanya, cek kenikmatannya,” kata Ipung.

Nama tersebut kini menjadi identitas usaha kopi yang mereka bangun bersama.

 

Laris Saat Event dan Pre-Order

Meski belum memiliki kedai tetap, Kopi Cek sudah mulai memiliki pelanggan setia.

Penjualan dilakukan melalui berbagai acara komunitas serta sistem pemesanan terbuka.

Biasanya pemesanan dibuka satu hingga dua kali dalam sebulan melalui WhatsApp dan media sosial.

Selama Ramadan, permintaan bahkan meningkat cukup signifikan.

“Alhamdulillah lumayan ramai. Ada event dan pre-order,” kata Ipung.

Harga kopi mereka juga cukup terjangkau.

Satu cup kopi dijual sekitar Rp15.000, sedangkan kemasan botol ukuran 1 liter sekitar Rp55.000.

Menu yang paling banyak diminati pelanggan adalah kopi susu, terutama yang menggunakan gula aren.

 

Lebih dari Sekadar Bisnis Kopi

Bagi Ipung, Kopi Cek bukan hanya soal berjualan minuman.

Usaha ini menjadi ruang bagi penyandang tunanetra untuk membuktikan bahwa mereka juga mampu berkarya dan mandiri.

Ia percaya pelatihan dan pengembangan UMKM bagi penyandang disabilitas memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi.

“Disabilitas memang jumlahnya tidak sebesar kelompok lain, tetapi persentasenya cukup signifikan dari total penduduk Indonesia,” katanya.

Karena itu ia berharap semakin banyak kesempatan pelatihan dan pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.

“Kalau diberi kesempatan, kami juga bisa berkontribusi,” ujarnya.

Dari sebuah candaan sederhana, Kopi Cek kini menjadi simbol keberanian, kreativitas, dan semangat untuk membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah benar-benar menghentikan seseorang untuk berkarya.

Related posts