Keutamaan Puasa Ramadan Hari Ke-25, Berburu Lailatul Qadar dan Kemuliaan Ibadah

Surabaya, HeadlineJatim.com– Memasuki keutamaan puasa Ramadan hari ke-25, umat Muslim kini berada di fase krusial sepuluh hari terakhir bulan suci. Hari ke-25, yang juga bertepatan dengan salah satu malam ganjil, menjadi momentum “sprint terakhir” bagi para pencari Lailatul Qadar. Di saat fisik mulai diuji oleh kelelahan, para ulama mengingatkan bahwa hari-hari ini adalah penentu bagi kesempurnaan ibadah satu bulan penuh.

Melansir dari portal resmi NU Online dalam artikel berjudul “Mencari Lailatul Qadar: Keutamaan Malam-Malam Ganjil di Akhir Ramadhan”, para ulama Nahdlatul Ulama menekankan pentingnya menjaga konsistensi. Merujuk pada kitab Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah, keutamaan puasa Ramadhan hari ke-25 digambarkan sebagai hari di mana Allah SWT membukakan pintu-pintu rahmat dan ampunan yang lebih luas bagi hamba yang bertaubat.

Read More

Ulama NU berpesan agar umat Islam tidak mengendurkan ibadah Qiyamul Lail pada malam ke-25.

“Ini adalah malam ganjil ketiga di sepuluh hari terakhir. Jika di malam-malam sebelumnya kita merasa kurang maksimal, maka hari ke-25 adalah kesempatan emas untuk menebusnya dengan doa dan tangisan taubat,” tulis NU Online.

Di sisi lain, mengutip dari laman Muhammadiyah.or.id melalui ulasan bertajuk “Memaknai Sepuluh Hari Terakhir: Antara Ritual dan Sosial“, tokoh-tokoh Muhammadiyah melihat hari ke-25 sebagai puncak transformasi karakter.

Muhammadiyah menekankan bahwa makna puasa hari ke-25 adalah ujian keikhlasan. Pada tahap ini, ibadah iktikaf diharapkan mampu melahirkan kesadaran baru tentang pentingnya kepedulian sosial. Muhammadiyah mengajak umat untuk menyelaraskan antara doa-doa di masjid dengan aksi nyata membantu sesama melalui penyaluran zakat fitrah dan sedekah lebih awal, agar kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan secara merata.

Tuntunan Resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel bertajuk “Merawat Stamina Spiritual di Penghujung Ramadhan” di portal resmi Kementerian Agama, memberikan arahan strategis.

Beliau menyampaikan bahwa hari ke-25 sering kali diwarnai oleh fenomena penurunan jamaah di masjid karena persiapan mudik. Kemenag RI mengimbau masyarakat untuk tetap memprioritaskan kualitas ibadah.

“Jangan biarkan persiapan fisik untuk lebaran mengalahkan persiapan batin kita. Hari ke-25 adalah waktu di mana ampunan Allah mengalir deras, mari kita sambut dengan memperbanyak tilawah,” ungkap beliau.

Secara ilmiah, signifikansi hari ke-25 didukung oleh studi dalam Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “Neuropsychological Resilience in the Last Decad of Ramadan Fasting“.

Jurnal tersebut memaparkan bahwa pada hari ke-25, meskipun cadangan energi fisik menurun, secara neuropsikologis, otak manusia yang terbiasa berpuasa mengalami peningkatan gelombang Theta. Secara medis, kondisi ini memungkinkan seseorang mencapai tingkat meditatif atau kekhusyukan yang lebih tinggi. Daya tahan spiritual di hari ke-25 ini membantu individu dalam mengelola stres dan meningkatkan rasa damai yang mendalam sebelum kembali ke rutinitas pasca-Ramadhan.

Memahami keutamaan puasa Ramadhan hari ke-25 menyadarkan kita bahwa pintu surga masih terbuka lebar. Sinergi pandangan dari NU, Muhammadiyah, dan Kemenag RI menegaskan bahwa hari ke-25 adalah saat yang tepat untuk membuktikan kualitas ketaqwaan kita yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT.

Related posts