Heboh Solar Industri Rp27 Ribu, Pertamina Ungkap Fakta Harga Sebenarnya di Jatim

Ilustrasi oleh tim grafis. 

Surabaya, HeadlineJatim.com – Isu mengenai harga Solar industri yang disebut melonjak hingga Rp27 ribu per liter di Surabaya beberapa hari terakhir mendadak viral di media sosial. Informasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, terutama menjelang Ramadan saat aktivitas industri dan distribusi energi meningkat.

Read More

Menanggapi isu tersebut, manajemen Pertamina Patra Niaga memberikan klarifikasi kepada media dalam acara buka puasa bersama pada Jumat, 13 Maret 2026, di sebuah hotel di kawasan Kayoon, Surabaya.

Area Manager Communication, Relations, dan CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa harga Solar industri di Jawa Timur tidak seperti yang ramai diberitakan.

“Kalau melihat rantai distribusinya, harga dari terminal di Surabaya sekitar Rp15.000 per liter. Di tingkat agen atau transportir sekitar Rp17.000, dan sampai ke industri biasanya berkisar Rp17.000–Rp19.000 per liter,” jelas Ahad.

Ahad menegaskan, angka Rp27 ribu yang viral tidak mencerminkan kondisi pasar. Solar industri berbeda dengan Solar subsidi karena dijalankan dalam mekanisme pasar bebas, di mana harga dipengaruhi kontrak, volume pembelian, dan biaya distribusi.

“Setiap industri bebas memilih pemasok dengan harga paling kompetitif. Jadi Rp27 ribu itu tidak sesuai kenyataan,” tambahnya.

Keluhan Solar Sulit Ditemukan

Meski harga relatif stabil, beberapa pelaku industri di Jawa Timur mulai mengeluhkan kesulitan memperoleh Solar industri, dan laporan serupa muncul dari beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Ahad menyebut pihaknya terus memantau kondisi distribusi, termasuk kemungkinan adanya pergerakan Solar lintas provinsi, yang bisa memengaruhi ketersediaan di wilayah tertentu. Namun secara umum, pasokan masih aman dan terkendali.

Waspadai Isu Belum Terverifikasi

Ahad juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpancing isu yang belum diverifikasi. Kadang isu energi dikaitkan dengan kondisi geopolitik global sehingga muncul persepsi bahwa harga pasti melonjak.

“Informasi yang belum jelas sumbernya bisa menimbulkan kepanikan pasar. Padahal kondisi di lapangan belum tentu seperti itu,” ujarnya.

Satgas Ramadan–Idulfitri Siaga

Menjelang Ramadan hingga arus mudik Lebaran, Pertamina memastikan distribusi energi akan dikawal melalui Satgas Ramadan–Idulfitri.

Tim satgas akan bersiaga untuk:

  • Memantau distribusi energi
  • Menangani keluhan masyarakat dan pelaku industri
  • Menjaga pasokan Solar tetap lancar selama periode meningkatnya aktivitas ekonomi

 

Box Fakta

Rantai Harga Solar Industri di Jawa Timur

  • Harga dari terminal: ± Rp15.000/liter
  • Harga di agen/transportir: ± Rp17.000/liter
  • Harga sampai industri: Rp17.000–Rp19.000/liter
  • Harga Rp27.000 yang viral di Surabaya merupakan laporan lokal dan bukan harga resmi nasional

Isu kenaikan harga Solar industri hingga Rp27.000 per liter sempat viral, membuat sejumlah pelaku usaha khawatir akan melonjaknya biaya operasional, terutama menjelang Ramadan.

Berdasarkan laporan media lokal, angka tersebut tercatat di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan merupakan kondisi di lapangan menurut pengakuan pelaku usaha setempat. Namun, angka ini bukan harga resmi nasional dari pemerintah atau Pertamina.

Sebagai perbandingan, harga BBM subsidi seperti Biosolar tetap dipatok pemerintah sekitar Rp6.800 per liter, sementara Solar industri non-subsidi mengikuti mekanisme pasar dan bisa berbeda antar wilayah. Dengan kata lain, meski isu viral memicu kekhawatiran, pasokan Solar industri secara umum masih aman dan harga wajar dapat diperoleh melalui distributor resmi.

“Meski viral, penting bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk memantau informasi resmi dari distributor agar tidak salah persepsi. Pasokan aman, harga wajar, dan aktivitas industri tetap berjalan lancar,” tutup Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Jatimbalinus Pertamina.

Related posts