Keutamaan Puasa Ramadan Hari Ke-21, Gerbang Lailatul Qadar dan Pembebasan dari Api Neraka

Surabaya, HeadlineJatim.com–Memasuki keutamaan puasa Ramadan hari ke-21, umat Muslim kini resmi menginjakkan kaki di sepuluh hari terakhir bulan suci. Hari ke-21 sering disebut sebagai “garis start” dalam perlombaan meraih Lailatul Qadar. Pada fase ini, fokus ibadah beralih dari sekadar pengampunan (Maghfirah) menuju pembebasan total dari api neraka (Itqun minan nar). Para ulama mengimbau umat untuk meningkatkan intensitas ibadah sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang “mengencangkan ikat pinggang” di akhir Ramadhan.

Melansir dari portal resmi NU Online dalam artikel berjudul “Keutamaan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan dan Tanda Lailatul Qadar“, para ulama Nahdlatul Ulama menekankan sakralnya malam ke-21. Mengacu pada kitab Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah, keutamaan puasa Ramadhan hari ke-21 digambarkan sebagai hari di mana Allah SWT memberikan cahaya di kubur bagi orang yang istiqamah.

Read More

Ulama NU berpesan agar umat Islam tidak melewatkan malam ke-21 tanpa ibadah qiyamul lail.

“Malam ke-21 adalah malam ganjil pertama di sepuluh hari terakhir. Ini adalah waktu utama untuk berburu kemuliaan malam yang lebih baik dari seribu bulan,” tulis NU Online dalam kajian rutinnya.

Di sisi lain, mengutip dari laman Muhammadiyah.or.id melalui ulasan bertajuk “Filosofi Iktikaf: Menemukan Jati Diri di Sepuluh Malam Terakhir“, tokoh-tokoh Muhammadiyah melihat hari ke-21 sebagai momentum pengasingan diri demi kedekatan pada Ilahi.

Muhammadiyah menekankan bahwa makna puasa hari ke-21 adalah ketulusan dalam beriktikaf. Iktikaf tidak hanya dimaknai berdiam diri di masjid, tetapi sebagai upaya rekonstruksi spiritual dan mental. Muhammadiyah mengajak warga persyarikatan untuk memanfaatkan hari ke-21 ini dengan memperbanyak tadabbur Al-Qur’an dan mengevaluasi kontribusi sosial yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

Tuntunan Resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel bertajuk “Memasuki Fase Pembebasan dari Api Neraka” di portal resmi Kementerian Agama, memberikan arahan penting bagi masyarakat.

Beliau menyampaikan bahwa hari ke-21 adalah saat di mana fisik manusia berada di titik lelah, namun iman harus tetap menyala. Kemenag RI mengimbau agar masjid-masjid memperhidup suasana dengan kegiatan yang edukatif dan spiritual.

“Jangan sampai semangat menurun karena kesibukan belanja atau mudik. Hari ke-21 adalah permulaan dari puncak keberkahan Ramadhan,” ungkap beliau.

Secara ilmiah, signifikansi hari ke-21 didukung oleh studi dalam Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “The Impact of Itikaf on Mental Health and Cortisol Regulation during Late Ramadan“.

Jurnal tersebut memaparkan bahwa pada hari ke-21, individu yang menjalankan ibadah dengan fokus tinggi (seperti iktikaf) mengalami penurunan drastis hormon kortisol (stres). Secara medis, ketenangan yang didapat dari zikir dan pengasingan diri di masjid pada hari ke-21 ini membantu menstabilkan sistem imun dan meningkatkan kebahagiaan psikologis secara signifikan, yang memperkuat daya tahan tubuh hingga Idul Fitri tiba.

Memahami keutamaan puasa Ramadhan hari ke-21 menyadarkan kita bahwa inilah saatnya memaksimalkan segala daya untuk mengetuk pintu langit. Dengan sinergi pandangan dari NU, Muhammadiyah, dan Kemenag RI, diharapkan umat Islam dapat memanfaatkan hari ke-21 ini sebagai titik tolak menuju pribadi yang bebas dari api neraka.

Related posts