Jakarta, Headlinejatim.com – Hubungan dagang antara Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan DKI Jakarta semakin menguat. Dalam gelaran Misi Dagang dan Investasi Jatim-DKI Jakarta 2026, total transaksi mencapai Rp5,74 triliun, menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah misi dagang Jatim.
Acara yang digelar di Ballroom Menara Peninsula Hotel, Jakarta, Senin (2/3), ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Tidak hanya angka transaksi yang fantastis, misi dagang ini juga membuka peluang baru bagi pelaku usaha Jatim untuk memperluas pasar, terutama di Jakarta sebagai pusat ekonomi nasional.
Dari sisi Jatim, komoditas yang laku terjual ke Jakarta meliputi daging ayam, telur, anak ayam, ternak, biji kopi, fillet dori, aneka olahan seafood dan daging, susu, gula kristal putih, bantal guling, rokok, hingga produk fashion dan batik tulis. Sementara dari Jakarta, Jatim membeli daging sapi untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumen lokal.
Khofifah menekankan bahwa angka transaksi ini menunjukkan bahwa sinergi ekonomi antarwilayah bisa memperkuat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya di Jatim dan Jakarta, tetapi juga provinsi lainnya.
“Sinergi antara provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pertama dan kedua di Indonesia, yaitu DKI Jakarta dan Jawa Timur, akan memperkuat perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Khofifah.
Strategi Pemerintah, Dari Pertemuan B2B Hingga Substitusi Impor
Misi Dagang ini tidak sekadar transaksi, tapi juga fasilitasi pertemuan antara penjual dan pembeli melalui mekanisme Government to Business (G2B) dan Business to Business (B2B). Tujuannya, agar arus informasi pasar lebih cepat dan transaksi lebih akurat.
Selain itu, kegiatan ini menjadi strategi Pemprov Jatim dalam memperluas potensi industri, agribisnis, dan investasi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan substitusi impor. Dengan demikian, nilai perdagangan domestik dapat meningkat secara signifikan.
Berdasarkan data, pada 2024, total perdagangan Jatim-DKI Jakarta mencapai Rp89,21 triliun, dengan Jatim mengekspor senilai Rp14,16 triliun dan impor dari Jakarta Rp75,95 triliun. Pertumbuhan ekonomi Jatim pada 2025 tercatat 5,33% (c-to-c), lebih tinggi dari rata-rata nasional, dengan PDRB mencapai Rp3.403,17 triliun.
Selain itu, surplus neraca perdagangan Jatim sebesar Rp167,53 triliun menegaskan daya saing produk lokal di pasar nasional dan internasional.
Sebanyak 10 transaksi tertinggi dicatat dalam Misi Dagang kali ini, termasuk Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jatim dengan Jakarta sebesar Rp2,64 triliun dan GAPERO Jatim dengan AMO Jakarta West senilai Rp1,068 triliun.
Selain transaksi bisnis, misi ini juga menjadi momen penguatan kerja sama antar organisasi kewirausahaan, seperti KADIN, HIPMI, IWAPI, dan GEKRAFS dari kedua wilayah.
“Jakarta adalah pintu market yang lebih luas, termasuk peluang ekspor. Kolaborasi antar pelaku usaha menjadi kunci memperluas jaringan,” kata Khofifah.
Misi Dagang ini sekaligus menjadi panggung promosi produk unggulan Jatim, termasuk telur dan daging ayam, yang merupakan produksi tertinggi di Indonesia.
Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, misi dagang menjadi instrumen strategis untuk memperpendek rantai pasok, memperkuat ketahanan ekonomi, dan membuka peluang pasar lebih luas.
Turut hadir dalam acara ini berbagai pejabat dari DPRD, perangkat daerah, instansi vertikal, serta perwakilan organisasi kewirausahaan dari Jatim dan Jakarta.






