Wonogiri, HeadlineJatim.com – Pagi itu, kabut tipis menggantung di lereng selatan Gunung Lawu. Dari sela akar beringin yang menjuntai, air menetes pelan lalu mengalir membentuk parit kecil.
Dua puluh Sembilan tahun lalu, di titik yang sama, tanahnya retak. Sumur-sumur warga Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, pernah kering total. Sawah gagal panen. Api mudah menjalar saat kemarau.
Di tengah krisis itu, seorang petani desa memilih naik ke bukit. Bukan untuk menebang, tetapi untuk menanam.
Namanya Sadiman. Warga memanggilnya Mbah Sadiman. Ia tidak membawa proposal. Tidak ada proposal berisi deretan angka ratusan juta maupun miliaran rupiah berbentuk Rancangan Anggaran Biaya (RAB). Tidak ada program pemerintah. Ia hanya membawa bibit dan keyakinan bahwa air tidak akan kembali tanpa pohon.

Bukit Gundul dan Keputusan Sunyi (1996)
Pertengahan 1990-an, kawasan Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan di lereng selatan Lawu mengalami degradasi berat. Penebangan dan kebakaran menghilangkan tutupan vegetasi. Tanah keras dan miskin humus membuat air hujan langsung lari ke bawah tanpa tersimpan.
Dampaknya konkret, krisis air bersih.
Sadiman, petani kelahiran Wonogiri awal 1950-an, menyaksikan sendiri bagaimana kemarau mengubah desa menjadi wilayah rawan air.
“Kalau air hilang, semua hilang. Orang desa tidak bisa hidup tanpa air,” tuturnya dalam sejumlah wawancara media nasional.
Tahun 1996, ia mulai menanam sendiri.
Memilih Beringin Yang Tidak Bikin Kaya
Di saat banyak orang memilih tanaman cepat panen, Sadiman justru memilih beringin dan jenis ficus.
Secara ekologis, pilihannya relevan. Ficus memiliki sistem perakaran dalam dan menyebar, efektif meningkatkan infiltrasi dan retensi air tanah. Tajuk lebarnya memperlambat evaporasi dan memperkaya lapisan organik.
Tetapi secara sosial, pilihan itu tidak populer.
Beringin dianggap mistis. Tidak menghasilkan uang cepat. Tidak “produktif”. Saat itu, Sadiman dicemooh. Bahkan disebut tidak waras. Ia menjual kambingnya untuk membeli bibit. Ia menyiram tanaman muda dengan air yang dipikul sendiri.
“Saya tidak tanam untuk kayu. Saya tanam untuk air,” ucapnya suatu waktu.
Kalimat itu sederhana, tetapi secara hidrologis, tepat sasaran.
Skala dan Konsistensi: ±250 Hektare, 10.000 Lebih Pohon
Selama hampir tiga dekade, Sadiman menanam lebih dari 10.000 hingga 15.000 pohon di kawasan sekitar 200–250 hektare.
Ia tidak bekerja serampangan. Area yang digarap berada di hulu lanskap desa — zona yang menentukan siklus air di bawahnya.
Pendekatannya konsisten:
- Spesies dipilih berdasarkan fungsi air, bukan nilai jual.
- Penanaman dilakukan bertahap, disesuaikan kemampuan perawatan.
- Perawatan berlanjut, tidak berhenti setelah tanam.
Dalam studi rehabilitasi hutan, banyak program gagal karena berhenti di tahap penanaman. Tanpa perawatan, tingkat kematian bibit tinggi. Target tercapai di atas kertas, tetapi fungsi ekologis tidak pulih.
Sadiman bekerja dengan logika berbeda, lambat, tetapi berkelanjutan. Butuh waktu belasan tahun sebelum perubahan nyata terlihat. Akar ficus memperbaiki struktur tanah. Humus terbentuk. Daya serap meningkat. Lalu mata air yang pernah mati mulai muncul kembali.
Belasan sumber air aktif kembali setelah kawasan tersebut menghijau. Air itu kini dimanfaatkan warga untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian. Suhu mikroklimat lebih sejuk. Risiko kebakaran menurun. Erosi terkendali. Warga yang dulu mengejeknya pun, kini menikmati hasilnya.
“Dulu orang bilang saya gila. Sekarang mereka ambil air dari sini,” katanya, setengah tersenyum.
Kritik Sunyi terhadap Proyek Rehabilitasi
Kisah Sadiman bukan sekadar human interest. Ia adalah kritik diam terhadap model rehabilitasi berbasis proyek. Banyak program reboisasi bergantung pada siklus anggaran tahunan. Penanaman dilakukan besar-besaran, tetapi pemeliharaan sering minim setelah proyek selesai. Laporan administratif selesai. Fungsi ekologis belum tentu pulih.
Sadiman membuktikan hal sebaliknya:
Restorasi tidak harus mahal untuk efektif.
Spesies kunci lebih penting daripada jumlah bibit.
Konsistensi lebih menentukan daripada seremoni.
Ia tidak menyebut istilah restorasi hidrologi atau landscape approach. Namun praktiknya mencerminkan prinsip itu.
Restorasi bukan soal target tanam satu musim. Ia adalah kerja lintas generasi.
Pengakuan Negara
Tahun 2018, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menganugerahkan Penghargaan Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan kepada Sadiman.
Kalpataru adalah penghargaan tertinggi lingkungan hidup di Indonesia.
Namun bagi Sadiman, penghargaan datang setelah pohon-pohon berdiri kokoh.
“Saya cuma tanam. Soal penghargaan itu urusan belakangan,” ujarnya.
Hingga 2026, Sadiman masih tinggal di Desa Geneng. Usianya telah melampaui 70 tahun. Aktivitasnya berkurang, tetapi ia tetap memantau kawasan yang dulu ia tanami sendirian.
Perawatan kini dibantu warga dan generasi muda desa.
“Kalau saya sudah tidak kuat, ya harus ada yang lanjut. Air ini bukan buat saya, tapi buat anak cucu,” katanya.
Lereng selatan Lawu hari ini adalah lanskap yang berbeda dari 30 tahun lalu.
Yang berubah bukan hanya vegetasi. Tetapi cara satu desa memahami air.
Sadiman tidak pernah menyusun proposal kebijakan. Namun ia menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem tidak selalu lahir dari proyek besar.
Kadang ia lahir dari satu orang yang memilih menanam ketika yang lain memilih pergi.
Air yang kini mengalir di Desa Geneng bukan sekadar sumber kehidupan.
Ia adalah bukti bahwa kesabaran. Ketika dipadukan dengan pengetahuan lokal dan konsistensi, dapat mengalahkan siklus anggaran mana pun.
Dan di antara akar-akar beringin itu, waktu bekerja lebih jujur daripada laporan.






