Industri Kosmetik Dunia 2025, Indonesia Kuat di Halal Beauty Tapi Belum Tembus 10 Besar Global

Jakarta, HeadlineJatim.com – Industri kecantikan global pada 2025 mencetak rekor nilai baru. Laporan Cosmetics 50 2025 dari Brand Finance mencatat total nilai 50 merek kosmetik paling bernilai di dunia mencapai sekitar USD 160 miliar. Dominasi masih dipegang brand Eropa dan Amerika Serikat, dengan pergeseran signifikan di posisi puncak.

Chanel kini menjadi brand kosmetik paling bernilai di dunia dengan valuasi sekitar USD 27,3 miliar, menggeser L’Oréal yang berada di posisi kedua dengan nilai sekitar USD 15,6 miliar. Daftar elite tersebut juga dihuni nama-nama besar seperti Gillette, Nivea, dan Estée Lauder.

Namun di tengah gemerlap angka miliaran dolar itu, muncul pertanyaan penting, Indonesia peringkat berapa di dunia?

Indonesia di Luar 50 Besar Dunia

Berdasarkan laporan resmi Brand Finance 2025, tidak ada satu pun brand kosmetik Indonesia yang masuk 10 besar dunia.

Lebih jauh lagi, dalam daftar lengkap Top 50 Most Valuable Cosmetics Brands 2025, nama brand Indonesia juga belum tercantum. Artinya, secara brand value global, Indonesia saat ini masih berada di luar 50 besar dunia.

Tidak tersedia data publik terverifikasi yang menyebutkan posisi seperti peringkat ke-60 atau ke-70, karena laporan resmi hanya merilis hingga 50 besar. Dengan demikian, secara faktual dapat disimpulkan bahwa brand kosmetik Indonesia belum masuk jajaran elite global berdasarkan valuasi merek internasional.

Kuat di Asia Tenggara & Halal Global

Meski belum masuk panggung 50 besar dunia, Indonesia justru menunjukkan performa kuat di tingkat regional.

Wardah konsisten masuk jajaran brand kosmetik terlaris di Asia Tenggara dan dinobatkan sebagai salah satu brand kosmetik halal paling ramah Muslim di dunia oleh platform ekonomi Islam global.

Selain itu, Make Over memperlihatkan pertumbuhan signifikan di segmen profesional dan premium regional.

Ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan tidak kompetitif, tetapi kekuatan utamanya masih terkonsentrasi di pasar domestik dan Asia Tenggara.

Mengapa Belum Mampu Bersaing Global?

Beberapa faktor struktural menjadi penghambat:

1.Skala dan Kapitalisasi

Brand seperti Chanel dan L’Oréal memiliki jaringan distribusi di puluhan negara dengan investasi riset dan pemasaran global bernilai miliaran dolar.

2. Brand Equity Internasional

Valuasi global tidak hanya dihitung dari penjualan, tetapi juga persepsi merek, loyalitas konsumen lintas negara, serta positioning premium.

3. Rantai Pasok dan Bahan Baku

Industri kosmetik nasional masih bergantung pada impor bahan baku tertentu, yang membatasi efisiensi dan daya saing harga di pasar global.

Perspektif Pengamat Ekonomi

Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai hambatan utama bukan pada kualitas produk.

“Brand Indonesia sebenarnya punya daya saing, terutama di segmen halal dan middle market. Tantangannya adalah meningkatkan skala global dan memperkuat positioning premium internasional,” ujarnya.

Sementara Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menekankan pentingnya strategi industri terpadu.

“Kalau ingin masuk 10 besar dunia, tidak cukup hanya kuat di pasar domestik. Harus ada strategi ekspor agresif, penguatan industri hulu, dan dukungan kebijakan untuk memperbesar kapasitas global,” jelasnya.

BOKS DATA

10 Brand Kosmetik Paling Bernilai di Dunia 2025

(Sumber: Brand Finance Cosmetics 50 2025)

Chanel — USD 27,3 miliar

L’Oréal — USD 15,6 miliar

Gillette — USD 9,1 miliar

Nivea — USD 7,8 miliar

Guerlain — USD 7,7 miliar

Lancôme — USD 6,2 miliar

Dove — USD 5,9 miliar

Garnier — USD 5,3 miliar

Estée Lauder — USD 5,2 miliar

Pantene — USD 5,2 miliar

Data 2025 menunjukkan fakta tegas, Indonesia belum masuk 50 besar brand kosmetik dunia berdasarkan valuasi merek global. Namun di Asia Tenggara dan segmen halal beauty, brand nasional sudah memiliki pijakan kuat.

Tantangan berikutnya bukan lagi soal kualitas produk, melainkan lonjakan skala, ekspansi lintas benua, dan transformasi brand menjadi pemain premium global.

Indonesia punya modal pasar dan diferensiasi. Tinggal bagaimana strategi global dijalankan secara konsisten dan agresif dalam beberapa tahun ke depan.

 

Sumber Data & Referensi

Brand Finance — Cosmetics 50 2025 Report

Laporan resmi 50 merek kosmetik paling bernilai di dunia tahun 2025.

https://brandfinance.com/insights/cosmetics-50-2025

Metodologi valuasi merek (Royalty Relief Method):

https://brandfinance.com/methodology

Universitas Indonesia — Profil Akademik Dr. Fithra Faisal Hastiadi

https://scholar.ui.ac.id/en/persons/fithra-faisal-hastiadi

Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia — Profil Mohammad Faisal

https://core-indonesia.com/anggota-tim/mohammad-faisal/

State of the Global Islamic Economy Report (DinarStandard) — Data halal beauty global

https://www.dinarstandard.com/state-of-the-global-islamic-economy-report

Statista – Beauty & Personal Care Market Outlook 2025

https://www.statista.com/outlook/cmo/beauty-personal-care/worldwide

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia — Data industri kosmetik nasional

https://kemenperin.go.id

 

Related posts