Ilustrasi oleh tim grafis
Surabaya, HeadlineJatim.com – Harga emas kembali mencetak kenaikan. Pada 28 Februari 2026, emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dibanderol Rp 3.085.000 per gram, naik Rp 40.000 dalam sehari. Kenaikan ini memicu optimisme. Banyak yang merasa sudah waktunya menjual.
Tapi tunggu dulu. Harga naik bukan berarti langsung untung. Ada satu faktor yang sering diabaikan investor ritel: selisih harga beli dan harga buyback.
- Masalah utamanya adalah Spread Beli–Jual
- Dalam transaksi emas fisik, terdapat dua harga, yakni
- Harga beli (saat Anda membeli emas)
- Harga buyback (saat Anda menjual kembali)
Fakta harga emas per 28 Februari 2026:
- Harga jual: Rp 3.085.000/gram
- Harga buyback: sekitar Rp 2.864.000/gram
Artinya terdapat selisih sekitar Rp 221.000 per gram, dan di sinilah letak realitasnya.
Naik Berapa Persen Agar Tidak Rugi?
Agar tidak rugi saat menjual emas, kita harus melihat selisih harga beli dan harga buyback.
Saat ini:
- Harga beli emas: Rp 3.085.000 per gram
- Harga buyback: sekitar Rp 2.864.000 per gram
- Selisihnya: Rp 221.000
Artinya, ketika Anda membeli emas di harga Rp 3.085.000, lalu langsung menjualnya kembali, Anda akan kehilangan sekitar Rp 221.000 per gram.
Supaya tidak rugi, harga emas harus naik minimal sebesar selisih itu.
Jika dihitung dalam persentase:
Rp 221.000 dibagi Rp 3.085.000 hasilnya sekitar 7 persen.
Jadi, harga emas harus naik minimal sekitar 7 persen hanya untuk balik modal.
Itu belum termasuk keuntungan.
Baru sekadar menutup selisih harga beli dan harga jual kembali.
Simulasi Nyata: Kenapa Naik 1–2% Masih Rugi
Misalnya Anda membeli emas di Rp 3.045.000 per gram sehari sebelumnya. Lalu harga naik ke Rp 3.085.000 (naik 1,31%).
Kedengarannya bagus.
Namun saat dijual kembali, harga buyback masih berada di kisaran Rp 2,8–2,9 jutaan. Hasilnya?
Anda masih rugi sekitar Rp 100.000 lebih per gram.
Artinya, kenaikan harian kecil tidak cukup untuk menutup spread.
Di Level Mana Mulai Untung?
Agar benar-benar mencetak keuntungan, harga emas perlu naik lebih tinggi dari sekadar menutup selisih.
Simulasi berbasis harga Rp 3.085.000:
Harga Emas
Kenaikan
Status
Rp 3.305.000
±7%
Impas
Rp 3.350.000
±8–9%
Untung tipis
Rp 3.450.000
±11–12%
Untung terasa
Secara praktik pasar, investor emas fisik baru benar-benar “senyum” ketika harga naik minimal 8–10 persen dari harga beli awal.
Kenapa Emas Tidak Cocok untuk Trading Cepat?
Ada beberapa alasan struktural:
Spread tetap ada, bahkan saat tren naik.
Buyback sering bergerak lebih lambat dari harga jual.
Pajak dan biaya tambahan bisa menggerus margin.
Volatilitas harian sering hanya dipicu sentimen.
Karena itu, emas lebih tepat diposisikan sebagai:
Safe haven saat gejolak global
Lindung nilai inflasi
Aset penyimpan nilai jangka menengah–panjang
Bukan instrumen “beli pagi, jual sore”.
Fakta Penting yang Wajib Dipahami
✔ Naik 1–2% → Masih rugi
✔ Naik 5–6% → Biasanya baru impas
✔ Naik 8–12% → Mulai menghasilkan keuntungan riil
Dengan harga emas sudah di atas Rp 3 juta per gram, pergerakan kecil terlihat besar secara nominal, tetapi secara persentase belum tentu signifikan. Jual emas yang benar-benar untung bukan soal momentum sesaat. Kuncinya ada pada:
- Memahami struktur harga
- Menghitung spread
- Bersabar menunggu kenaikan minimal 8 persen
Investor yang rasional tidak hanya melihat angka naik, tetapi menghitung kapan angka itu benar-benar menguntungkan. Karena dalam investasi emas, yang terlihat naik belum tentu menghasilkan.






