Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat menerima penghargaan Kota Terbaik I dalam Pengelolaan Sampah Tahun 2025. (Foto: Humas Pemkot Surabaya)
Surabaya, HeadlineJatim.com – Komitmen mewujudkan Indonesia ASRI atau Aman, Sehat, Resik, dan Indah, mendapat pengakuan nasional. Kota Surabaya resmi ditetapkan sebagai Kota Terbaik I dalam Pengelolaan Sampah Tahun 2025 dengan nilai 74,92 dan meraih Sertifikat Menuju Kota Bersih.
Penghargaan tersebut diumumkan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah 2026 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional. Forum ini dihadiri sekitar 1.500 peserta dari seluruh Indonesia dan mengusung tema Kolaborasi untuk Indonesia ASRI.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan persoalan sampah nasional sudah memasuki tahap darurat. Ia menyebut arahan Presiden Prabowo Subianto jelas, pemerintah daerah harus melakukan langkah luar biasa dan berkelanjutan.
Sepanjang 2025, kementerian melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari capaian pengurangan sampah, kondisi sarana prasarana, pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir, hingga tata kelola dari hulu ke hilir. Hasilnya, belum ada daerah yang menembus kategori Adipura maupun Adipura Kencana. Dari 35 daerah yang meraih Sertifikat Menuju Kabupaten/Kota Bersih, Surabaya mencatat nilai tertinggi.
Data nasional menunjukkan masih ada ratusan kabupaten/kota dalam status pembinaan dan pengawasan, terutama karena praktik open dumping dan rendahnya capaian pengelolaan. Kondisi ini membuat Gerakan Nasional Indonesia ASRI didorong menjadi gerakan kolektif lintas wilayah.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyebut capaian ini bukan sekadar prestasi birokrasi. Menurutnya, keberhasilan Surabaya lahir dari gotong royong warga, mulai dari kader lingkungan, pengelola bank sampah, hingga pelaku usaha.
Saat ini, produksi sampah Surabaya mencapai sekitar 1.600 ton per hari yang berasal dari rumah tangga, hotel, apartemen, restoran, dan pusat usaha. Karena itu, strategi pengurangan dari sumber menjadi kunci. Pemilahan sampah rumah tangga terus digencarkan, kampung-kampung percontohan didorong menularkan praktik baik, dan pelaku usaha diminta mengolah sampah secara mandiri agar beban TPA tidak terus meningkat.
Eri juga menegaskan bahwa konsep ASRI tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Penataan kabel udara, penertiban baliho semrawut, hingga pengembalian fungsi trotoar bagi pejalan kaki menjadi bagian dari wajah kota yang aman dan indah.
“Kalau kota bersih dan sehat, dampaknya langsung terasa. Wisatawan datang, ekonomi bergerak, kualitas hidup naik,” ujarnya.
Sebagai kota metropolitan dengan dinamika penduduk tinggi, tantangan Surabaya memang tidak ringan. Namun pemerintah kota optimistis, dengan konsistensi dan partisipasi warga, target Indonesia ASRI bukan sekadar slogan, melainkan arah pembangunan berkelanjutan.
Capaian ini sekaligus menjadi pengingat, perang terhadap sampah tidak bisa ditunda. Transformasi pengelolaan harus diwujudkan dalam aksi nyata, dari rumah tangga hingga kebijakan kota.
“Saya nyuwun tulung (minta tolong), ayo kita saling menjaga, kalau ada yang buang sampah sembarangan, ingatkan dengan cara baik karena Surabaya adalah milik seluruh warganya. Maka kita jaga bersama, dengan komitmen dan konsistensi,” pungkasnya.






