Ilustrasi oleh tim grafis
Surabaya, HeadlineJatim.com– Memasuki keutamaan puasa Ramadhan hari kedelapan, umat Muslim kini berada di ambang akhir fase sepuluh hari pertama yang dikenal sebagai fase rahmah (rahmat). Pada hari kedelapan ini, transisi spiritual menjadi semakin dalam, di mana kesabaran yang telah dipupuk selama sepekan mulai membuahkan ketenangan batin yang stabil.
Melansir dari laman resmi NU Online dalam artikel berjudul “Fadhilah Puasa Ramadhan Hari ke-1 hingga ke-30“, para ulama Nahdlatul Ulama menjelaskan nilai spiritual hari ini. Merujuk pada kitab klasik Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah, disebutkan bahwa keutamaan puasa Ramadan hari kedelapan mencakup anugerah pahala yang luar biasa, seolah-olah hamba tersebut beribadah layaknya para nabi dan syuhada dalam hal keteguhan iman.
“Hari kedelapan adalah momentum untuk memperkuat ikatan hati kepada Allah. Ini adalah waktu di mana ampunan dan rahmat-Nya mengalir bagi mereka yang bersungguh-sungguh,” tulis ulasan dalam portal tersebut.
Di sisi lain, mengutip dari portal Muhammadiyah.or.id melalui artikel “Ramadhan sebagai Madrasah Akhlak dan Karakter“, ulama Muhammadiyah menekankan bahwa hari kedelapan adalah puncak dari adaptasi mental.
Muhammadiyah memandang bahwa pada tahap ini, puasa telah berhasil menginternalisasi nilai kejujuran (shidiq) dan kedisiplinan. Secara esensial, makna puasa hari kedelapan adalah transformasi dari sekadar menahan lapar menuju penguatan integritas diri yang akan dibawa hingga pasca-Ramadhan.
Tuntunan dari Kementerian Agama (Kemenag) RI
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel bertajuk “Memaknai Sepuluh Hari Pertama Ramadhan” di situs resmi Kemenag, memberikan pesan edukatifnya.
Beliau menekankan bahwa hari kedelapan merupakan bagian krusial dari fase pencarian rahmat Allah. Kemenag RI mengimbau agar umat tidak mengendurkan semangat ibadah, melainkan justru meningkatkan intensitas doa dan tadarus, mengingat hari-hari ini adalah pintu pembuka menuju fase pengampunan (maghfirah) di sepuluh hari kedua.
Secara ilmiah, signifikansi hari kedelapan didukung oleh penelitian dalam Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “The Psychological and Physiological Shifts in the Second Week of Ramadan”.
Jurnal tersebut memaparkan bahwa pada hari kedelapan, konsentrasi ketone dalam darah mulai menstabilkan fungsi kognitif. Hal ini secara medis mendukung “kejernihan mental” yang memudahkan seseorang untuk mencapai kekhusyukan tinggi. Secara psikologis, ini adalah momen di mana individu merasakan spiritual flow, yaitu kondisi tenang dan fokus dalam menjalankan ibadah maupun aktivitas harian.
Memahami keutamaan puasa Ramadhan hari kedelapan memberikan inspirasi bagi setiap Muslim untuk tetap konsisten. Dengan mengacu pada tuntunan NU, Muhammadiyah, dan Kemenag RI, diharapkan setiap hamba dapat meraih kesempurnaan ibadah di hari-hari yang penuh rahmat ini.






