Pacitan Jadi Lokasi PLTA Pumped Storage 1.000 MW, PLN Siapkan Studi Kelayakan

Pemberian Cindera Mata oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji kepada PT PLN (Persero) UPP JBTB 1 Wahyu Kurniawan

Pacitan, HeadlineJatim.com – PT PLN (Persero) merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pumped Storage Grindulu berkapasitas 1.000 Megawatt (MW) di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Proyek ini diproyeksikan menjadi PLTA pumped storage terbesar kedua di Indonesia sekaligus memperkuat sistem kelistrikan Jawa-Bali berbasis energi bersih.

Read More

Rencana strategis tersebut disampaikan dalam pertemuan koordinasi antara jajaran PLN dan Bupati Pacitan di Ruang Rapat Bupati, Selasa (24/2/2025). Pertemuan dihadiri perwakilan PLN Kantor Pusat, PLN UPP JBTB 1 Yogyakarta, PLN ULTG Madiun, serta manajemen PLN UIP JBTB.

General Manager PLN UIP JBTB, Moh. Fathol Arifin, menegaskan bahwa proyek PLTA Pumped Storage Grindulu merupakan bagian dari strategi PLN mendukung target Net Zero Emission (NZE) pemerintah.

“PLTA Pumped Storage Grindulu akan menjadi tulang punggung baru bagi sistem kelistrikan Jawa Bagian Timur dan Bali. Dengan kapasitas 1.000 MW, proyek ini berperan vital menjaga stabilitas pasokan listrik dari sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten,” ujarnya.

Menurut Fathol, pembangkit ini tidak hanya berfungsi sebagai produsen listrik, tetapi juga sebagai infrastruktur penyimpanan energi skala besar yang akan meningkatkan keandalan sistem saat beban puncak. PLN, kata dia, berkomitmen menjalankan proses prakonstruksi

Manager PLN UPP JBTB 1 Yogyakarta, Wahyu Kurniawan, menjelaskan proyek ini menjadi bagian penting dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Saat ini, PLN tengah menyiapkan studi kelayakan (feasibility study) untuk lokasi pembangunan yang direncanakan berada di Desa Ketro, Kecamatan Tulakan, serta Desa Pucangombo, Kecamatan Tegalombo, Pacitan.

“Kami berharap proyek ini memberikan multiplier effect bagi ekonomi lokal, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun pengembangan infrastruktur pendukung,” jelas Wahyu.

Berbeda dengan PLTA konvensional, teknologi pumped storage bekerja layaknya baterai raksasa (giant battery). Sistem ini memiliki dua waduk—atas dan bawah—yang terhubung melalui terowongan dan turbin pompa.

Saat pasokan listrik berlebih (misalnya dari PLTS atau PLTB), air dipompa ke waduk atas untuk menyimpan energi. Ketika kebutuhan listrik meningkat, air dialirkan kembali ke waduk bawah untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Mekanisme ini efektif menjaga stabilitas sistem kelistrikan berbasis energi terbarukan yang fluktuatif.

Dengan kapasitas 1.000 MW, PLTA Pumped Storage Grindulu diproyeksikan menjadi infrastruktur kunci dalam menopang penetrasi energi baru terbarukan (EBT) di sistem Jawa-Bali.

Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, menyatakan dukungan penuh terhadap proyek energi hijau tersebut. Ia menilai pembangunan PLTA Pumped Storage di Pacitan merupakan peluang strategis untuk mendorong transformasi ekonomi daerah.

“Ini tantangan sekaligus peluang besar. Saya optimistis ada manfaat jangka panjang bagi daerah. Kami berharap proyek ini berjalan lancar dan Pacitan bisa menjadi percontohan pengembangan energi bersih nasional,” ujarnya.

Jika terealisasi, proyek PLTA Pumped Storage 1.000 MW di Pacitan ini tidak hanya memperkuat keandalan listrik di Jawa Timur dan Bali, tetapi juga meningkatkan porsi EBT dalam bauran energi nasional.

Selain itu, proyek ini berpotensi membuka lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta mempercepat pembangunan infrastruktur di Pacitan dan sekitarnya.

Langkah ini sekaligus menegaskan sinergi antara PLN dan pemerintah daerah dalam mendukung agenda transisi energi bersih dan kemandirian energi nasional.

Related posts