Dari Laptop Sederhana,Tiga Anak Muda Indonesia Ini Tembus Panggung Keamanan Siber Dunia

Surabaya, HeadlineJatim.com – Di sebuah kamar kecil dengan laptop yang sering nge-lag, tiga remaja ini pernah duduk berjam-jam di depan layar. Bukan untuk main gim. Bukan untuk scroll media sosial. Tapi untuk membongkar sistem, membaca baris kode, dan mencari celah keamanan.

Hari ini, nama mereka dikenal di komunitas keamanan siber. Tapi dulu? Mereka cuma anak daerah dengan rasa ingin tahu yang kelewat besar.

Mereka adalah Bayu Fedra Abdullah, Muhammad Fani Akbar, dan Muhammad Alifa Ramdhan. Trio anak muda Indonesia yang membuktikan bahwa talenta tak pernah mengenal batas geografis.

Dari “Laptop Kentang” ke Forum Elit Dunia

Fedra masih ingat betul masa-masa awalnya belajar keamanan siber. Perangkatnya jauh dari kata mumpuni. Internet pun tak selalu stabil. Tapi yang ia punya satu: fondasi. Bukan fondasi rumah, tapi fondasi ilmu.

“Kalau kayak gitu, sebenarnya yang penting itu semuanya belajar fundamental. Itu yang paling sering dilupain sama orang buat belajar di bidang cyber security. Kalau nggak belajar fundamental, dia nggak bakal bisa jadi jago menurutku,” ujar Fedra dalam sebuah wawancara.

Ia menekankan, sebelum bermimpi jadi pentester kelas dunia atau bug hunter berpenghasilan dolar, ada PR yang tak boleh dilewatkan.

“Perlu belajar fundamental yaitu programming, sistem operasi, jaringan, kriptografi, lalu CVE/CWE. Wajib banget belajar fundamentalnya.”

Kalimat itu bukan motivasi kosong. Fedra sudah membuktikannya. Ia pernah berdiri di panggung konferensi keamanan siber internasional bergengsi seperti Black Hat, mempresentasikan risetnya di hadapan praktisi global. Bagi anak Solo yang dulu belajar dari keterbatasan, itu bukan sekadar prestasi. Itu validasi.

Fani Penggerak dari Timur Indonesia

Kalau Fedra dikenal publik karena tampil di panggung global, Fani adalah sosok penggerak di balik layar. Berasal dari Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat, Fani bukan tumbuh di kota teknologi. Tapi justru dari sanalah mental kompetitifnya ditempa.

Dialah yang mendorong timnya untuk serius ikut kompetisi Capture The Flag (CTF). Dari satu ajakan sederhana, perjalanan panjang itu dimulai. Fani memilih fokus di ranah application security dan cloud security — dua bidang yang kini jadi jantung transformasi digital global.

“Saya fokus pada keamanan aplikasi dan cloud, karena keduanya adalah area yang terus berkembang dan kita harus berada di depan dalam memahami pola serangan serta pertahanan.”

Kalimat itu menunjukkan satu hal: ia tak sekadar belajar untuk menang lomba. Ia membaca arah zaman. Di tengah maraknya serangan ransomware, kebocoran data, dan ancaman siber lintas negara, keahlian seperti yang ditekuni Fani bukan lagi pilihan — tapi kebutuhan.

Ramdhan Haus Ilmu Sejak 16 Tahun

Sementara itu, Ramdhan sudah mencuri perhatian sejak usia 16 tahun. Saat banyak remaja seusianya sibuk menentukan jurusan kuliah, ia sudah menjuarai kompetisi keamanan siber nasional, mengalahkan peserta yang lebih senior.

Bidang yang ia tekuni bukan bidang “ringan”. Binary exploitation dan reverse engineering adalah wilayah teknis yang rumit, penuh logika mendalam dan detail ekstrem. Belajarnya pun bukan dari jalur instan.

“Jangan pernah putus asa jika ingin menggapai sesuatu, jadilah orang yang selalu ingin tahu dan haus akan ilmu, agar bisa terus semangat belajar dan mendalami ilmu.”

Pesan itu sederhana. Tapi justru di situlah kekuatannya. Ramdhan adalah representasi generasi self-taught. Belajar dari forum, dokumentasi, diskusi komunitas, trial and error tanpa henti.

Mereka Bukan “Hacker Jahat”

Ada stigma lama yang sulit hilang: hacker identik dengan kriminal. Padahal, ketiganya justru berdiri di sisi sebaliknya.

Mereka adalah ethical hackers. Orang-orang yang mencari celah keamanan untuk diperbaiki, bukan untuk disalahgunakan. Mereka membantu perusahaan dan organisasi memahami titik lemah sistem sebelum diserang pihak tak bertanggung jawab. Di era ketika satu kebocoran data bisa melumpuhkan reputasi institusi, peran mereka jadi semakin vital.

Fundamental, Rasa Ingin Tahu, dan Konsistensi

Jika ditarik satu garis lurus dari Solo, Dompu, hingga Tangerang Selatan — ada satu benang merah yang sama: konsistensi belajar. Tidak ada cerita “tiba-tiba viral”. Tidak ada kisah “instan jago”.

Yang ada adalah malam-malam panjang membaca dokumentasi teknis, kegagalan di kompetisi, server yang tak kunjung bisa ditembus, dan rasa frustrasi yang pelan-pelan berubah jadi pemahaman.

Fedra menegaskan pentingnya fondasi.

Fani membaca arah industri.

Ramdhan menjaga rasa ingin tahu.

Tiga karakter. Satu frekuensi.

Inspirasi yang Lebih dari Sekadar Prestasi

Kisah mereka bukan cuma soal anak muda Indonesia yang bekerja di luar negeri atau tampil di forum global. Ini tentang mentalitas. Tentang bagaimana keterbatasan fasilitas tidak otomatis membatasi masa depan. Tentang bagaimana anak daerah bisa bersaing di panggung dunia, asal punya disiplin belajar dan komunitas yang saling menguatkan.

Dan mungkin, di sudut kamar lain malam ini, ada remaja dengan laptop sederhana yang sedang mengetik baris kode pertamanya. Kalau ia membaca kisah ini, mungkin ia akan paham satu hal.

Menjadi ahli keamanan siber bukan soal seberapa canggih perangkatmu. Tapi seberapa kuat fondasimu. Dan seberapa lama kamu mau bertahan untuk terus belajar. Karena seperti kata mereka — ilmu itu bukan untuk dipamerkan. Tapi untuk diperdalam.

Related posts