Keutamaan Puasa Ramadan Hari Keempat, Memperkokoh Kesabaran dan Raih Pahala Bertingkat

Ilustrasi oleh tim grafis 

Surabaya, HeadlineJatim.com–Memasuki hari keempat bulan suci Ramadhan 1447 H, fokus ibadah umat Muslim mulai beralih dari sekadar adaptasi fisik menuju pendalaman kualitas spiritual. Para ulama menyebut fase ini sebagai masa pengokohan kesabaran di mana keberkahan ibadah mulai dilipatgandakan.

Read More

Keutamaan Hari Keempat Menurut Ulama NU

Mengutip ulasan dari NU Online dalam artikel berjudul “Keutamaan Puasa Ramadhan Hari per Hari“, para ulama Nahdlatul Ulama menjelaskan bahwa hari keempat memiliki kedudukan istimewa. Merujuk pada kitab klasik Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah, puasa pada hari keempat dipercaya memberikan pahala sebagaimana orang yang membaca kitab-kitab samawi (Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an).

“Pada hari ini, seorang hamba diajak untuk semakin mencintai Kalamullah (Al-Qur’an) sebagai kompas kehidupan,” tulis redaksi NU Online dalam tinjauan spiritualnya.

Perspektif Muhammadiyah, Penguatan Karakter

Sementara itu, melansir dari laman resmi Muhammadiyah.or.id melalui artikel “Ramadhan sebagai Madrasah Akhlak“, tokoh-tokoh Muhammadiyah menekankan bahwa hari keempat adalah momentum untuk memperkuat etos kerja dan kejujuran.

Muhammadiyah memandang puasa hari keempat sebagai bentuk latihan konsistensi (istiqamah). Menurut pandangan ulama di lingkungan Muhammadiyah, ibadah ini harus membuahkan dampak sosial (kesalehan sosial), di mana rasa lapar yang dirasakan menjadi pemantik kepedulian terhadap fakir miskin.

Tuntunan dari Kementerian Agama RI

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel bertajuk “Membangun Spiritualitas di Fase Pertama Ramadhan” di portal resmi Kemenag, mengingatkan bahwa hari keempat adalah bagian dari sepuluh hari pertama yang penuh rahmat (rahmah).

“Kami menghimbau umat untuk terus menjaga ritme ibadah. Hari keempat adalah ujian konsistensi niat sebelum memasuki fase tengah Ramadhan,” ungkapnya.

Secara ilmiah, transisi hari keempat didukung oleh studi dalam Journal of Religion and Health dengan judul artikel “The Psychological Benefits of Religious Fasting“. Jurnal tersebut memaparkan bahwa pada hari keempat, otak manusia mulai memproduksi lebih banyak Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang meningkatkan fokus mental dan ketenangan batin.

Proses ini selaras dengan makna puasa secara terminologi, yaitu al-imsak (menahan diri), yang secara psikologis membantu manusia mengontrol impuls negatif dan emosi.

Dengan sinergi pandangan dari berbagai ormas besar dan otoritas pemerintah, puasa hari keempat bukan sekadar rutinitas lapar dan dahaga. Ini adalah fase penting untuk meraih pahala ibadah yang bertingkat serta memperkuat kesehatan mental melalui pendekatan spiritual yang disiplin.

Related posts