Ilustrasi oleh Tim grafis
Surabaya, HeadlineJatim.com– Memasuki hari ketiga Ramadhan 1447 H, umat Muslim mulai merasakan ritme ibadah yang lebih stabil. Hari ketiga ini sering dipandang sebagai fase kritis dalam transisi biologis dan spiritual, di mana kesabaran mulai diuji secara lebih mendalam namun pintu rahmat terbuka semakin lebar.
Dari Sabar Menuju Takwa
Melansir dari laman resmi NU Online, para ulama Nahdlatul Ulama menekankan bahwa puasa hari ketiga adalah momentum penyucian hati. Merujuk pada kitab Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah, hari ketiga dikaitkan dengan doa agar dijauhkan dari kebodohan dan didekatkan pada cahaya ilmu.
Di sisi lain, mengutip dari portal Muhammadiyah.or.id, puasa hari ketiga merupakan implementasi nyata dari “Madrasah Ramadhan“. Muhammadiyah menekankan bahwa pada fase ini, seorang mukmin diajak untuk mengasah kecerdasan spiritual dan sosial. Puasa bukan sekadar ritual, melainkan gerakan transformasi perilaku menuju pribadi yang lebih disiplin dan bertaqwa sesuai dengan tujuan utama puasa dalam QS. Al-Baqarah: 183.
Edukasi dari Kementerian Agama
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI melalui kanal edukasinya mengingatkan bahwa hari ketiga adalah waktu yang tepat untuk memperkuat istiqamah. Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA dalam pesan singkatnya menyampaikan bahwa setelah melewati dua hari pertama, fisik mulai beradaptasi, sehingga fokus ibadah harus ditingkatkan pada kualitas tilawah dan pemahaman ayat-ayat suci.
Adaptasi Metabolik dan Fokus Mental
Secara ilmiah, transisi hari ketiga Ramadhan didukung oleh penelitian dalam Journal of Fasting and Health. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa pada hari ketiga, tubuh mulai secara efisien beralih menggunakan cadangan energi lemak (ketosis ringan) yang berdampak pada kejernihan mental jika dibarengi dengan pola nutrisi yang tepat saat sahur.
Secara psikologis, konsistensi hingga hari ketiga membangun jalur saraf baru yang memperkuat kontrol diri (self-control). Hal ini selaras dengan konsep mujahadah (bersungguh-sungguh) yang diajarkan para ulama untuk memerangi hawa nafsu.
Doa dan Harapan
Para ulama sepakat bahwa doa di hari ketiga memiliki keistimewaan tersendiri. Umat Islam dianjurkan untuk memohon agar setiap detik puasanya menjadi penggugur dosa dan pembuka pintu hikmah.
“Jangan biarkan hari ketiga berlalu begitu saja. Jadikan ia pijakan untuk melompat lebih tinggi dalam kualitas ibadah di hari-hari berikutnya,” tulis portal berita resmi Kemenag RI.






