Surabaya, HeadlineJatim.com- Tanggal 3 Ramadhan dalam kalender Hijriah mencatatkan duka mendalam bagi sejarah peradaban Islam. Pada hari ini, tepat enam bulan setelah wafatnya baginda Nabi Muhammad SAW, putri tercinta beliau, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, mengembuskan napas terakhirnya di Madinah.
Kisah Pilu di Bulan Suci
Wafatnya Fatimah Az-Zahra pada tahun 11 Hijriah menjadi peristiwa yang paling menonjol pada awal bulan Ramadhan. Berdasarkan artikel bertajuk “Keutamaan dan Sejarah Wafatnya Sayyidah Fatimah Az-Zahra” yang dilansir dari laman NU Online, Fatimah adalah sosok yang paling merasakan kesedihan mendalam atas kepergian Rasulullah SAW.
Sebelum wafatnya, Rasulullah SAW pernah membisikkan sesuatu yang membuatnya menangis, lalu membisikkan hal lain yang membuatnya tersenyum. Belakangan diketahui bahwa senyum itu muncul karena kabar bahwa dialah anggota keluarga pertama yang akan menyusul Rasulullah ke alam baka.
Kehidupan Fatimah bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib, merupakan potret kesederhanaan yang paripurna. Mengutip dari jurnal ilmiah berjudul “The Role of Fatimah Az-Zahra in Early Islamic Society” yang dipublikasikan dalam Journal of Islamic Studies, Fatimah digambarkan sebagai pilar moral bagi komunitas Muslim awal.
Meskipun ia adalah putri dari pemimpin besar, Fatimah menjalani hari-harinya dengan bekerja keras, mulai dari menggiling gandum hingga mengurus rumah tangga tanpa pelayan. Kesetiaannya kepada Ali bin Abi Thalib di tengah kemiskinan menjadi inspirasi bagi jutaan Muslimah hingga saat ini.
Detik-Detik Terakhir dan Wasiat Fatimah
Melansir dari ulasan sejarah di portal Republika Online dengan judul “Detik-Detik Wafatnya Putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra”, disebutkan bahwa pada hari wafatnya, Fatimah mandi dan mengenakan pakaian terbaiknya. Ia berpesan kepada Ali bin Abi Thalib agar pemakamannya dilakukan secara tertutup pada malam hari demi menjaga kesuciannya.
Pemakaman yang dilakukan secara senyap di kompleks Jannatul Baqi ini menambah kesan melankolis dalam sejarah Islam. Kepergiannya meninggalkan luka bagi Hasan, Husain, dan tentu saja sang suami, Ali bin Abi Thalib, yang kehilangan sosok pendukung paling setia.
Refleksi Bagi Umat Muslim
Kementerian Agama RI melalui portal Kemenag.go.id dalam artikel “Meneladani Kesederhanaan Fatimah Az-Zahra” mengajak umat Muslim yang menjalankan puasa hari ketiga untuk merenungkan makna ketabahan.
“Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar, tapi bulan untuk mengenang kembali ruh perjuangan keluarga Nabi yang begitu teguh meski dalam keterbatasan,” tulis rilis resmi tersebut.






