Daryono Mundur dari BMKG, Transisi Kepemimpinan dan Ujian Ketahanan Sistem

Jakarta, HeadlineJatim.com – Ketika gempa mengguncang suatu wilayah di Indonesia, publik hampir selalu menunggu satu hal yang sama: penjelasan resmi yang tenang, berbasis data, dan tidak menimbulkan kepanikan. Selama bertahun-tahun, suara itu kerap datang dari Daryono, Direktur Gempa bumi dan Tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Namun pada 14 Februari 2026, ia menyatakan mundur dari jabatannya sekaligus mengajukan pensiun dini. Keputusan tersebut ia sampaikan langsung kepada wartawan dan dikonfirmasi oleh BMKG. Daryono menjelaskan bahwa ia tengah menjalani perawatan mata akibat distrofi kornea dan memilih fokus pada pemulihan kesehatannya. Meski demikian, ia menegaskan akan tetap memberikan edukasi kepada masyarakat terkait gempa dan tsunami.

Read More

Keputusan ini bukan sekadar pergantian jabatan struktural. Di negara dengan tingkat risiko bencana geologi tertinggi di dunia, mundurnya seorang figur sentral dalam mitigasi gempa memunculkan pertanyaan yang lebih luas: seberapa kuat sistem yang menopang kesiapsiagaan nasional.

Untuk memahami konteksnya, kita perlu kembali pada fakta geologis yang tak bisa ditawar. Indonesia berdiri di atas pertemuan empat lempeng tektonik besar (Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina) yang membentuk sabuk tektonik global bernama Pacific Ring of Fire. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah paling aktif secara seismik di dunia.

Data BMKG menunjukkan lebih dari 10.000 kejadian gempa tercatat setiap tahun. Sebagian besar berkekuatan kecil, tetapi ratusan di antaranya signifikan dan berpotensi merusak. Selain itu, Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif, jumlah terbanyak secara global.

Lebih jauh lagi, Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (2017) mengidentifikasi sedikitnya 13 segmen megathrust aktif. Zona-zona ini membentang dari barat Sumatra, Selat Sunda, selatan Jawa, Bali–Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku, hingga Papua. Beberapa di antaranya dikategorikan sebagai seismic gap, yakni wilayah yang dalam periode panjang belum melepaskan energi besar dan secara ilmiah berpotensi menyimpan akumulasi tekanan tektonik.

Artinya, ancaman gempa besar dan tsunami bukan hipotesis. Ia adalah kemungkinan ilmiah yang terpetakan. Di tengah ancaman itu, Indonesia sebenarnya telah membangun sistem peringatan dini. BMKG mengoperasikan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), jaringan sensor seismik, GPS geodetik, dan pusat monitoring 24 jam yang mampu merilis informasi gempa dalam hitungan menit.

Namun teknologi tidak bekerja sendiri. Sistem ini bergantung pada analis data, seismolog, pemodel tsunami, operator pusat monitoring, serta komunikator risiko yang mampu menerjemahkan data teknis menjadi informasi publik.

Di sinilah persoalan muncul. Secara nasional, Indonesia memiliki ratusan pegawai teknis di BMKG dan sejumlah ahli geofisika dari berbagai perguruan tinggi. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia yang mencapai sekitar 5,2 juta kilometer persegi dan lebih dari 17.000 pulau, distribusi tenaga ahli tersebut belum merata.

Banyak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten dan kota belum memiliki analis risiko tetap. Sebagian masih bergantung pada koordinasi pusat ketika terjadi gempa signifikan. Anggaran kebencanaan daerah pun kerap lebih difokuskan pada respons darurat ketimbang mitigasi jangka panjang.

Kondisi ini terlihat nyata di sejumlah wilayah rawan. Pantai barat Sumatra, misalnya, berada di zona subduksi aktif dengan potensi gempa megathrust besar. Kepadatan penduduk pesisir tinggi, sementara tidak semua kabupaten memiliki bangunan evakuasi vertikal yang memadai.

Di pesisir selatan Jawa, dari Banten hingga Jawa Timur, potensi tsunami akibat megathrust selatan Jawa telah lama menjadi perhatian ilmuwan. Namun di sejumlah desa pesisir, jalur evakuasi belum sepenuhnya terstandar dan latihan kesiapsiagaan belum konsisten.

Sulawesi Tengah, khususnya wilayah Palu dan Donggala, menjadi pelajaran pahit setelah gempa dan tsunami 2018. Aktivitas Sesar Palu-Koro sangat aktif, dan meski rekonstruksi terus berjalan, literasi kebencanaan masyarakat belum sepenuhnya terinternalisasi.

Maluku, Maluku Utara, dan Papua juga menghadapi risiko gempa dangkal tinggi dengan tantangan geografis yang membuat distribusi tenaga teknis dan infrastruktur peringatan dini tidak selalu optimal.

Semua fakta ini menunjukkan satu hal yang tegas. Ancaman tersebar luas, tetapi kapasitas belum sepenuhnya seimbang. Dalam konteks tersebut, peran figur seperti Daryono menjadi signifikan. Ia tidak hanya membaca data magnitudo dan kedalaman gempa. Ia menjelaskan mekanisme patahan, potensi tsunami, dan batas kewaspadaan secara jernih kepada publik. Ia membangun literasi risiko di ruang publik nasional. Namun, sistem kebencanaan tidak boleh bergantung pada satu individu.

Indonesia memiliki struktur kelembagaan melalui BMKG, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD di daerah. Tetapi regenerasi tenaga ahli, pemerataan distribusi SDM, integrasi peta risiko dalam tata ruang, serta pendidikan kebencanaan di sekolah masih menjadi pekerjaan besar.

Audit nasional kebutuhan SDM kebencanaan menjadi mendesak. Standarisasi minimal kapasitas teknis di daerah megathrust perlu ditetapkan. Jalur evakuasi dan infrastruktur peringatan dini harus diuji dan dipelihara secara berkala. Tanpa langkah konkret, risiko yang sudah dipetakan ilmiah hanya akan menjadi arsip.

Keputusan Daryono untuk mundur karena alasan kesehatan menunjukkan sisi manusiawi dari seorang ilmuwan yang selama ini bekerja di balik alarm gempa. Ia memilih menjaga kesehatannya, tetapi tetap berkomitmen mengedukasi publik.

Sementara itu, bumi Indonesia tidak pernah berhenti bergerak. Gempa besar bukan pertanyaan “apakah”, melainkan “kapan”. Ketika saat itu tiba, yang diuji bukan hanya bangunan dan sensor, tetapi kualitas kebijakan, kesiapan SDM, dan kedewasaan publik dalam merespons informasi. Indonesia tidak dapat keluar dari Cincin Api. Namun Indonesia dapat memilih untuk memperkuat sistemnya. Dan di situlah tantangan sebenarnya dimulai.

 

Sumber Berita & Data

Berita pengunduran diri Daryono:

https://news.detik.com/berita/d-8356047/mundur-dari-direktur-bmkg-daryono-janji-tetap-edukasi-soal-gempa-tsunami

Profil dan informasi kegempaan BMKG:

https://www.bmkg.go.id

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (2017):

https://www.bmkg.go.id/gempabumi/peta-sumber-dan-bahaya-gempa.bmkg

Data Risiko Bencana Nasional – BNPB:

https://inarisk.bnpb.go.id

Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTE

WS):

https://inatews.bmkg.go.id

Related posts