Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI).
Surabaya, HeadlineJatim.com – Pernah menerima telepon dari nomor asing yang mengaku dari bank atau kepolisian? Jangan langsung percaya. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI baru saja merilis peringatan keras terkait maraknya fenomena Vishing atau Voice Phishing yang kian cerdik menjebak masyarakat.
Berdasarkan edukasi terbaru di media sosial resminya, BSSN menyoroti bahwa para penipu kini tidak lagi sekadar menawarkan hadiah palsu. Mereka menggunakan teknik Social Engineering (rekayasa sosial) yang dirancang untuk memanipulasi psikologis korban agar mau menyerahkan data sensitif secara sukarela.
Bagaimana Cara Kerja Mereka?
Para pelaku biasanya menggunakan sistem pemanggil otomatis (autodialer) untuk menghubungi ribuan nomor secara acak. Namun, “senjata” utamanya ada pada teknik komunikasi saat telepon diangkat.
Berikut adalah beberapa peran yang sering dimainkan pelaku:
- Petugas Bank: Menginfokan adanya transaksi mencurigakan dan meminta verifikasi data.
- Otoritas Keamanan: Menakut-nakuti korban dengan ancaman hukum atau kabar anggota keluarga yang mengalami kecelakaan.
- Surveyor Palsu: Mengajak ngobrol santai untuk menggali informasi pribadi tanpa disadari.
”Kejahatan ini memanfaatkan rasa takut dan rasa ingin tahu. Sekali korban masuk dalam skenario, pelaku akan menggiring mereka memberikan kode OTP, data KTP, hingga nama ibu kandung,” tulis BSSN dalam materi edukasinya.

Mengenal Vishing, Ancaman di Balik Suara Ramah
Berbeda dengan SMS penipuan (smishing), vishing memberikan tekanan secara real-time. Pelaku sering kali menggunakan latar belakang suara yang meyakinkan, seperti suasana kantor yang sibuk atau call center, agar korban percaya bahwa mereka sedang berbicara dengan pihak resmi.
Tips dari BSSN Agar Tidak Terjebak
Untuk menangkal ancaman ini, BSSN RI membagikan tiga langkah krusial:
- Cek Nomor Pemanggil: Waspadai nomor dengan kode area luar negeri atau nomor ponsel biasa yang mengaku dari instansi resmi.
- Jaga Rahasia Data: Ingat, instansi resmi tidak akan pernah meminta PIN, kata sandi, apalagi kode OTP melalui telepon.
- Tutup dan Verifikasi: Jika ragu, segera tutup telepon. Hubungi nomor call center resmi yang tertera di situs web asli atau kartu ATM Anda.
”Data Anda adalah aset. Jangan biarkan orang asing mengambil kendali atas identitas digital Anda hanya lewat satu percakapan telepon,” tegas pihak BSSN.
Masyarakat, khususnya di Jawa Timur, diimbau untuk segera melapor ke pihak berwajib atau kanal aduan siber resmi jika menemukan aktivitas mencurigakan agar rantai penipuan ini bisa segera diputus.






