Tidak Akan Menyerah, Emil Audero Bangkit dari Ledakan Petasan

Emil Audero saat berlatih di Gelora Bung Tomo Surabaya. (Foto : Rasta Fariz)

Italia, HeadlineJatim.com – Kiper timnas Indonesia dan Cremonese, Emil Audero Mulyadi (28), yang menjadi korban lemparan petasan dalam laga Serie A kontra Inter Milan pada Minggu (1/2/2026), kini sudah kembali berlatih dan menyatakan bahwa insiden tersebut malah memperkuat tekadnya untuk terus bersaing di kancah sepak bola kelas dunia. Sementara itu, pelaku telah resmi ditahan dan menghadapi tuntutan pidana, serta Inter Milan mendapatkan sanksi resmi dari Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).

Read More

Kondisi Terbaru, Emil Audero Siap Hadapi Laga Berikutnya

Setelah mengalami ledakan petasan di dekat area gawang pada menit ke-48 pertandingan di Stadio Giovanni Zini, Cremona, Audero sempat mengalami gangguan pendengaran sementara dan luka bakar ringan di lutut. Namun, pemeriksaan medis menyeluruh pada Selasa (3/2/2026) menunjukkan tidak ada kerusakan permanen, dan ia sudah bergabung dengan sesi latihan tim Cremonese pada hari yang sama.

“Dalam hati saya, saya tahu bahwa saya tidak bisa menyerah begitu saja. Adrenalin dan semangat untuk klub serta negara membuat saya tetap berdiri di lapangan,” ujar Audero dalam wawancara eksklusif dengan La Gazzetta dello Sport (3/2/2026).

Ia juga menambahkan rasa syukur atas dukungan dari seluruh penggemar Indonesia dan Italia, serta apresiasi kepada rekan setimnya yang tetap fokus meskipun situasi tegang.

Pada laga tersebut, Inter Milan unggul 2-0 berkat gol Lautaro Martinez (menit ke-16) dan Piotr Zielinski (menit ke-31). Kemenangan tersebut menjadikan Inter berada di puncak klasemen Serie A dengan 55 poin, unggul 8 poin dari AC Milan di posisi kedua.

Profil Emil Audero, Dari Mataram ke Eropa, Tanpa Karir Klub Indonesia

Sebelum menjadi sorotan, perlu diklarifikasi bahwa Emil Audero tidak pernah bermain untuk klub profesional di Indonesia. Ia lahir di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 18 Januari 1997 dari ayah Indonesia (Edy Mulyadi) dan ibu Italia (Antonella Audero). Pada usia 1 tahun, keluarganya pindah ke Cumiana, Italia, dan ia memulai karier sepak bola dari akademi lokal sebelum bergabung dengan sistem muda Juventus pada usia 11 tahun (2008).

Setelah karir gemilang dengan Juventus muda, sampdoria, Inter Milan, dan Como, ia kini bermain untuk Cremonese dalam status pinjaman dari Como 1907 (kontrak hingga Juni 2026 dengan opsi pembelian permanen). Ia resmi memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada 10 Maret 2025 dan telah membela timnas Indonesia dalam 4 laga resmi, dengan catatan 1 clean sheet.

Mengapa tidak pernah bermain di Indonesia? Sebelum fokus pada karir di Eropa, Audero sempat mengungkapkan bahwa ia berharap bisa bermain untuk klub asal daerahnya di masa depan, namun hingga saat ini belum ada kesempatan yang sesuai. Ia juga pernah menolak undangan untuk bergabung dengan klub Indonesia karena fokus pada pengembangan karir di Eropa jelang Piala Dunia 2026.

Pelaku Teridentifikasi, Tidak Terafiliasi Ultras

Pihak kepolisian Cremona mengumumkan bahwa pelaku adalah pria berusia 40 tahun bernama Marco Rossi asal Romagna, yang tidak memiliki hubungan dengan kelompok ultras apapun dan tidak ada catatan kriminal sebelumnya. Saat mencoba melemparkan petasan kedua, benda tersebut meledak di tangannya, menyebabkan kehilangan tiga jari dan risiko kehilangan fungsi lengkap tangan kanan.

Setelah perawatan awal di Rumah Sakit Ospedale Civile di Cremona, pelaku dipindahkan ke Rumah Sakit Universitas di Modena untuk menjalani operasi rekonstruktif dan kini dalam kondisi kritis. Ia telah ditahan berdasarkan pasal 689 KUHP Italia tentang “Kekerasan dalam Acara Olahraga” dan berpotensi mendapatkan hukuman penjara hingga 7 tahun serta larangan seumur hidup memasuki stadion manapun di Italia (DASPO).

Selain itu, setelah pertandingan terjadi bentrokan kecil di Stasiun Cremona antara sebagian suporter Inter dengan aparat keamanan, yang menyebabkan 4 orang terluka ringan. Rekaman CCTV stadion menunjukkan bahwa pelaku bertindak sendirian dan bahkan diserang oleh sesama suporter Inter yang marah karena tindakannya.

Inter Milan Terima Sanksi Resmi Dari FIGC

Pada Rabu (3/2/2026), FIGC mengumumkan sanksi resmi terhadap Inter Milan sebagai berikut:

1. Denda sebesar 50.000 Euro untuk kegagalan mengontrol perilaku suporter.

2. Penutupan tribun sektor 3 di Stadion Giuseppe Meazza selama 3 pertandingan Serie A mendatang.

3. Larangan mutlak kehadiran suporter bertandang selama 4 pertandingan, termasuk laga kontra Juventus (25/2/2026) dan AC Milan (10/3/2026).

4. Klub wajib menyelenggarakan program edukasi bagi seluruh anggota suporter tentang keselamatan dan etika di stadion.

Dalam siaran resmi, Presiden Inter Milan Steven Zhang menyampaikan permohonan maaf dan berjanji akan memperkuat pengawasan terhadap kelompok suporter serta meningkatkan keamanan di setiap pertandingan. Kapten Inter, Lautaro Martinez, juga telah menghubungi Audero secara pribadi untuk meminta maaf dan berharap kesembuhan cepat.

 

SUMBER DATA & REFERENSI TERVERIFIKASI (ITALIA & INDONESIA)

Sumber dari Italia:

1. La Gazzetta dello Sport – “Audero torna in campo, sanzioni per l’Inter” (3/2/2026) – Link

2. Football Italia – “Emil Audero: ‘Sono bene, grazie al supporto’” (3/2/2026) – Link

3. FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) – “Decreto Sanzioni Inter Milan” (3/2/2026) – Link

4. Polizia di Stato – “Relazione Investigazione Incidente Cremona” (2/2/2026) – Link

5. Gazzetta di Modena – “Paziente in condizioni critiche dopo esplosione fiammifero” (2/2/2026) – Link

 Sumber dari Indonesia:

 1. Kemenpora RI – “Komentar Resmi tentang Insiden Emil Audero” (3/2/2026) – Link

2. PSSI – “Dukungan untuk Emil Audero dan Pantauan Sanksi FIGC” (3/2/2026) – Link

3. Poskota.co.id – “Emil Audero Bangkit dari Ledakan Petasan” (3/2/2026) – Link

 

 

 

Related posts