Pertemuan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya di Kantor Bidang Wilayah III Pusdal LH Jawa, Surabaya (28/1/2026).(Foto: Istimewa)
SURABAYA , HeadlineJatim.com – Upaya menjaga lingkungan hidup menyerupai sebuah orkestrasi besar. Setiap peran memiliki fungsi, setiap langkah menyumbang daya, dan hanya melalui harmoni kerja bersama energi perubahan dapat lahir. Semangat inilah yang tercermin dalam pertemuan Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya pada Rabu, 28 Januari 2025, di Kantor Bidang Wilayah III Pusdal LH Jawa, Surabaya.
Pertemuan ini menjadi ruang penyelarasan tempo antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam isu lingkungan hidup yang kompleks dan saling terkait. Ketidaksamaan ritme kebijakan berisiko melahirkan program yang berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, menyatukan arah dipandang sebagai langkah awal untuk memastikan setiap instrumen kebijakan bekerja dalam satu komposisi.
Kepala Bidang Wilayah III Pusdal LH Jawa, Gatut Panggah Prasetya, menegaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut arahan pimpinan untuk memperkuat kerja bersama lintas level pemerintahan. Dalam orkestrasi kebijakan, peran pusat dan daerah tidak saling menutupi, melainkan saling menguatkan agar energi pelaksanaan tetap terjaga.
“Sinergi dengan pemerintah daerah menjadi kunci agar pengelolaan lingkungan hidup berjalan efektif, terintegrasi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi daerah, Kepala DLH Kota Surabaya Dedik Irianto memandang sinergi ini sebagai upaya menyamakan nada antara kebijakan nasional dan kebutuhan lokal. Tanpa keselarasan tersebut, program di tingkat kota berisiko kehilangan daya dorong. Dengan kolaborasi yang terstruktur, setiap kebijakan diharapkan memberi kontribusi nyata terhadap kinerja daerah sekaligus sasaran nasional.
“Kami memandang Pusdal LH Jawa sebagai mitra strategis. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat capaian kinerja daerah sekaligus mendukung target nasional,” katanya.
Diskusi kemudian mengalir pada agenda-agenda konkret yang menjadi bagian penting dari komposisi kebijakan lingkungan hidup. Pendampingan pencapaian target pengelolaan sampah, penguatan tata kelola sampah sektor usaha termasuk hotel, restoran, dan kafe (HOREKA), serta perluasan peran masyarakat melalui program lingkungan berbasis komunitas dibahas sebagai instrumen yang saling melengkapi.
Dalam sinergi ini, pemerintah bertindak sebagai dirigen yang mengatur arah, dunia usaha memainkan peran penggerak ekonomi yang bertanggung jawab, sementara masyarakat menjadi penopang keberlanjutan di tingkat tapak. Ketika seluruh elemen bergerak dalam irama yang sama, energi kebijakan tidak terbuang, melainkan terkonsentrasi pada dampak.
Pertemuan tersebut juga menegaskan pentingnya meningkatkan kualitas perencanaan dan kinerja pengelolaan lingkungan hidup. Bukan semata demi memenuhi indikator administratif, tetapi untuk memastikan setiap program memiliki kesinambungan dan mampu menjawab tantangan lingkungan perkotaan secara nyata.
Dalam perspektif kebijakan publik, koordinasi antara Pusdal LH Jawa dan DLH Kota Surabaya menunjukkan bagaimana sinergi dapat mengubah potensi menjadi kekuatan. Ia menjadi contoh bahwa kolaborasi yang baik mampu melipatgandakan energi pembangunan dan menjaga keberlanjutan lingkungan secara seimbang.
Melalui koordinasi yang berkelanjutan, kedua institusi berkomitmen menjaga harmoni kerja sama agar pengelolaan lingkungan hidup tidak berhenti sebagai wacana, melainkan hadir sebagai praktik yang konsisten. Sebab, seperti halnya sebuah orkestrasi, tujuan besar hanya dapat dicapai ketika seluruh peran dimainkan dengan kesadaran, keselarasan, dan energi yang sama. Bersinergi untuk lingkungan yang lebih baik.






