Panitia Gunungan Tempe Saat Membagikan Tempe Kepada Pengunjung.(Foto: Fariz)
Sidoarjo, HeadlineJatim.com – Warga Desa Sedengan Mijen, Krian, Sidoarjo baru saja bikin aksi yang mind-blowing! Menyambut bulan Ramadan, mereka menggelar tradisi Ruwat Desa dengan cara yang nggak biasa: bikin tumpeng tempe raksasa setinggi 14 meter.
Gunungan tempe yang menjulang tinggi di tengah lapangan desa ini langsung jadi pusat perhatian (31/1/2026). Nggak tanggung-tanggung, tumpeng ini dibuat dari 3 kuintal kedelai hasil patungan para perajin tempe lokal sebagai bentuk rasa syukur mereka.
Kepala Desa Sedengan Mijen, Hasanuddin, bilang kalau tumpeng ini bukan sekadar buat konten atau pajangan aja. Ini adalah simbol kalau desa mereka tetap konsisten jadi sentra tempe di Sidoarjo.
”Ruwat desa ini adalah wujud syukur kita kepada Tuhan, sekaligus kirim doa buat para leluhur,” jelasnya.
Nggak cuma tumpeng raksasa, ada juga 31 tumpeng hasil bumi dari tiap RT yang diarak keliling desa. Vibes kebersamaannya dapet banget, nunjukin kalau warga sini emang kompak parah.
Meski sekarang perajin tempe tinggal 25 orang, kualitas tempe dari Sedengan Mijen katanya nggak ada lawan. Rasa klasiknya tetap juara dan punya tempat tersendiri di hati pelanggan.
Kekompakan warga ini pun dapet jempol dari Camat Krian, Nawari. Saking kerennya, tradisi Ruwat Desa Sedengan Mijen ini sudah masuk dalam agenda resmi Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167.
”Tradisi ini positif banget dan punya potensi jadi destinasi wisata budaya yang oke kalau dikelola serius kayak gini,” kata Nawari.
War Takjil? Bukan, Ini War Tempe!
Puncak acara yang paling ditunggu apalagi kalau bukan “perebutan” tumpeng. Begitu doa bersama selesai, ribuan warga langsung menyerbu tumpeng 14 meter itu. Mereka percaya kalau dapat potongan tempe dari tumpeng raksasa ini bisa bawa berkah.
Kusairi (35), warga asal Prambon, bahkan rela “war” dan berdesakan demi dapet bagian. “Sengaja dateng ke sini karena penasaran lihat tumpeng raksasanya. Alhamdulillah, perjuangan nggak sia-sia, masih dapet dua potong!” ceritanya sambil ketawa.
Acara ditutup dengan situasi yang aman dan kondusif berkat kawalan TNI-Polri. Harapannya, tradisi unik ini terus sustainable dan bisa diwariskan ke generasi selanjutnya tanpa kehilangan jati dirinya. (*)






