Tim grafis headlinejatim.com
Oleh: Heru Dwi Sudarmanto
“Sejarah tidak pernah berjanji akan adil. Ia hanya setia mengulang pola” Jiang Xueqin
Indonesia hari ini adalah negeri yang ramai.
Ramai oleh pendapat, ramai oleh keyakinan, ramai oleh kemarahan, dan ramai oleh klaim kebenaran. Di tengah keramaian itu, muncul sosok intelektual global bernama Jiang Xueqin, yang justru mengingatkan bahwa peradaban tidak runtuh karena kekurangan suara, melainkan karena gagal membaca pola di balik kebisingan.
Dari Kehidupan Sunyi ke Cara Pandang yang Tajam
Jiang Xueqin lahir di Tiongkok, dari keluarga kelas menengah terdidik yang hidup di bawah tekanan perubahan sosial cepat. Ia tumbuh di lingkungan yang mengajarkan satu hal sejak dini: hidup tidak selalu adil, dan sistem sering kali lebih menentukan daripada niat pribadi.
Ketika melanjutkan pendidikan ke Yale University, Jiang tidak larut dalam euforia Barat. Ia justru berdiri di posisi antara mengamati bagaimana Timur dan Barat sama-sama gemar mengemas kepentingan dengan bahasa moral.
Pengalaman itulah yang membentuk filosofi hidupnya, jangan terpesona oleh cerita, perhatikan strukturnya.
Indonesia dan Ilusi Moralitas Publik
Filosofi ini terasa relevan ketika kita menengok Indonesia hari ini. Dalam banyak isu publik, dari kebijakan ekonomi, penegakan hukum, hingga polemik sosial, perdebatan sering kali berhenti pada soal siapa paling bermoral, bukan apa dampak strukturalnya.
Kita menyaksikan bagaimana satu isu bisa viral, memantik kemarahan kolektif, lalu tenggelam tanpa perubahan berarti. Energi publik habis di linimasa, sementara pola dasarnya tetap berjalan: yang kuat tetap kuat, yang rentan tetap menanggung akibat.
Dalam bahasa Jiang, ini adalah gejala klasik masyarakat yang sibuk memproduksi penilaian, tapi malas membaca permainan.
Ketika Narasi Lebih Penting dari Kebijakan
Jiang kerap mengingatkan bahwa negara dan kekuasaan jarang bergerak karena niat suci. Mereka bergerak karena kalkulasi risiko dan kepentingan. Moralitas sering hadir belakangan, sebagai pembenar.
Fenomena ini tampak ketika kebijakan publik di Indonesia lebih sering dipasarkan sebagai narasi keberhasilan ketimbang dievaluasi secara jujur. Data dipilih, cerita dipoles, kritik dianggap gangguan.
Publik diajak merasa aman, bukan diajak berpikir. Padahal sejarah (seperti kata Jiang) tidak mencatat seberapa indah pidato, melainkan seberapa kokoh keputusan menghadapi krisis.
Ketidakpastian yang Ditolak, Padahal Nyata
Salah satu gagasan penting Jiang Xueqin adalah penerimaan terhadap ketidakpastian struktural. Dunia, katanya, tidak menyediakan informasi lengkap. Maka keputusan terbaik bukan yang paling meyakinkan hari ini, melainkan yang paling tahan guncangan esok hari.
Indonesia justru sering alergi pada ketidakpastian. Kita ingin kepastian cepat: angka pertumbuhan harus selalu positif, stabilitas harus selalu terasa tenang, kritik harus segera disenyapkan.
Namun sejarah menunjukkan, ketenangan yang dipaksakan sering kali hanya menunda kegelisahan yang lebih besar.
Media Sosial dan Bangsa yang Mudah Terseret Emosi
Jiang juga relevan ketika kita melihat peran media sosial dalam kehidupan Indonesia. Algoritma mendorong emosi, bukan refleksi. Yang viral bukan yang paling penting, tapi yang paling memicu reaksi.
Akibatnya, bangsa ini mudah terseret pada drama harian, tapi kehilangan fokus pada persoalan jangka panjang: kualitas pendidikan, daya saing ekonomi, ketahanan institusi, dan keadilan sosial yang nyata.
Dalam istilah Jiang, ini adalah masyarakat yang sibuk bereaksi, tapi lupa membaca arah.
Belajar Dewasa dari Seorang Pembaca Sejarah
Dari masa kecilnya di Tiongkok, pengalamannya di Barat, hingga kiprahnya sebagai intelektual publik global, Jiang Xueqin menyampaikan satu filosofi hidup yang sederhana namun menuntut kedewasaan.
Hidup bukan tentang merasa paling benar, melainkan tentang memahami permainan yang sedang berlangsung.
Indonesia tidak kekurangan moral, tidak pula kekurangan semangat. Yang kita perlukan hari ini adalah kejernihan membaca pola, keberanian menunda emosi, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa dunia memang rumit.
Karena bangsa yang dewasa bukan yang paling keras berteriak di ruang publik, melainkan yang paling tenang menghadapi kenyataan.
