Memahami Tren “Open to Work” di LinkedIn, Cara Profesional Mengelola Karier

Prilly Latuconsina mengaktifkan badge #OpenToWork di LinkedIn (Foto: Instagram/@prillylatuconsina96)

Surabaya, Headlinejatim.com– Fitur Open to Work di LinkedIn semakin banyak digunakan oleh profesional dari berbagai latar belakang. Baru-baru ini, salah satu unggahan figur publik Prilly Latuconsina (26/1/2026) yang menampilkan status tersebut sempat menarik perhatian warganet.

Namun di luar konteks individual, fenomena ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara dunia kerja memaknai karier dan mobilitas profesional.

Apa itu “Open to Work” dan Mengapa Semakin Populer?

Open to Work merupakan fitur yang memungkinkan pengguna LinkedIn memberi sinyal kepada rekruter atau jaringan profesional bahwa mereka terbuka terhadap peluang kerja baru. Dalam praktiknya, fitur ini tidak selalu berarti seseorang sedang menganggur.

Banyak professional menggunakannya sebagai strategi untuk:
– Menjajaki peluang karir secara pasif,
– Membuka akses ke tawaran lintas industri atau lintas peran,
– Mengomunikasikan minat pada proyek kontrak, freelance, atau kolaborasi,
– Mengantisipasi perubahan organisasi atau kondisi pasar kerja.
Dengan kata lain, open to work lebih mencerminkan kesiapan terhadap peluang, bukan kondisi kehilangan pekerjaan.

Meningkatnya penggunaan fitur ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan struktur dunia kerja. Pola karier linear seperti bekerja lama di satu perusahaan dengan jalur promosi bertahap, kian tergantikan oleh pola karier dinamis yang menekankan fleksibilitas, pembelajaran berkelanjutan, dan relevansi keterampilan.

Fenomena ini diperkuat oleh adanya digitalisasi dan otomatisasi pekerjaan, munculnya ekonomi berbasis proyek, normalisasi kerja jarak jauh dan hybrid, dan generasi profesional yang lebih sadar akan career ownership. Dalam konteks ini, transparansi tentang minat karir justru menjadi aset.

Di Indonesia, pencarian kerja masih kerap diasosiasikan dengan kegagalan atau ketidakstabilan. Padahal, di banyak ekosistem profesional global, keterbukaan terhadap peluang baru dipandang sebagai bagian dari manajemen karir yang sehat.

Normalisasi penggunaan Open to Work berpotensi:
– Mengurangi stigma sosial terhadap transisi karier,
– Mendorong diskusi terbuka tentang keterampilan dan aspirasi,
– Mempercepat job matching yang lebih tepat antara talenta dan kebutuhan industri.

Meski menawarkan banyak manfaat, penggunaan fitur ini tetap memerlukan pertimbangan. Budaya organisasi, sensitivitas industri, serta posisi individu dalam perusahaan dapat mempengaruhi dampaknya. Oleh karena itu, pemahaman tujuan personal dan strategi komunikasi tetap menjadi kunci.

Fenomena Kolektif, Bukan Isu Personal

Perbincangan seputar Open to Work seharusnya tidak berhenti pada siapa yang menggunakannya, melainkan mengarah pada pemahaman yang lebih luas tentang transformasi dunia kerja.

Fitur ini adalah refleksi dari perubahan cara profesional membangun karier, lebih terbuka, adaptif, dan berbasis pilihan sadar.

Related posts