Gempa M5,5 Sebagai Sinyal Tektonik Besar dan Jejak Geologi Pulau Jawa

Tim Grafis headlineJatim.com

Pacitan, Headlinejatim.com– Selasa, 27 Januari 2026, Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,5 (update M5,7) mengguncang wilayah Pacitan pada 08.20 WIB. Getaran ini terasa hingga Malang, Surabaya, bahkan Bali. Namun gempa pagi ini lebih dari sekadar getaran: ia adalah sinyal dari sistem tektonik besar di bawah Pulau Jawa, terbentuk melalui jutaan tahun proses geologi. Para ahli menyebutnya “narasi bumi yang belum selesai”, sebuah peringatan alami sekaligus pelajaran sejarah geologi yang hidup.

Read More

Gempa Pacitan: Sinyal dari Sistem Tektonik

BMKG mencatat gempa terjadi di koordinat 8,18° LS dan 111,33° BT, sekitar 24–25 km tenggara Pacitan, dengan kedalaman 105–122 km. Mekanismenya adalah thrust fault, pergeseran batuan akibat tekanan antar-lempeng.

Gempa ini bukan berasal dari zona megathrust dangkal, melainkan dari aktivitas dalam lempeng itu sendiri (intraslab), meski tetap bagian dari sistem subduksi besar.

Pakar geologi menyebut gempa ini sebagai “getaran sistemik”, mencerminkan tekanan tektonik yang terus menumpuk di selatan Jawa. “Ini bukan peristiwa terpencil, tapi respon batuan terhadap gaya tektonik besar,” kata Dr. Rendy Pratama, pakar seismologi.

Mengapa Pacitan? Sejarah Geologi dan Struktur Wilayah

Pacitan berada di atas zona subduksi aktif, di mana Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Zona ini terbentuk puluhan juta tahun lalu, membentuk pegunungan laut, cekungan sedimen, sesar, dan batuan vulkanik tua.

Selama kala Tersier (Eosen–Miosen), Pacitan mengalami magmatisme busur vulkanik, menghasilkan formasi batuan andesit dan sedimen kompleks, jejak geologi yang masih terlihat hingga kini.

Wilayah Pacitan memiliki struktur geologi yang beragam:

Batuan vulkanik tua dan breksi, bukti aktivitas magmatik dan tektonik Panjang.

Patahan lokal dan sesar aktif, jalur pelepasan energi tambahan selain sumber lempeng utama. Morfologi dan stratigrafi menunjukkan peninggalan deformasi berulang sejak Miosen, termasuk lipatan, intrusi andesit, dan batugamping yang terkompresi.

Dari Busur Vulkanik Menuju Zona Gempa Aktif

Pacitan termasuk dalam Lajur Pegunungan Selatan Pulau Jawa, bagian busur vulkanik kuno yang terbentuk antara 45–20 juta tahun lalu. Batuan andesit dan sedimen adalah bukti konvergensi lempeng tektonik dan evolusi gunung api.

Gempa M5,5/M5,7 adalah ekspresi gaya tektonik yang terakumulasi dalam sistem subduksi, bagian dari cerita geologi yang masih aktif hingga kini.

Gempa ini adalah pelepasan energi di dalam lempeng yang menunggu permukaan. Studi global menunjukkan ‘slip deficit’ atau tegangan belum terlepaskan berpotensi memicu gempa besar.

Segmen selatan Jawa memiliki riwayat gempa besar dan rentang pengulangan ribuan tahun. Artinya, gempa besar mungkin terjadi setelah periode panjang akumulasi energi.

Gempa terasa hingga Bali. Meskipun belum ada kerusakan signifikan, respon warga dan karakter tanah lokal menunjukkan bahwa risiko tetap ada, terutama di dataran aluvial yang memperkuat getaran.

Ahli menekankan ini bukan gempa terakhir, tetapi bagian dari pola seismik lebih besar.

Penting memahami konteks geologi jangka panjang, bukan laporan harian. Mitigasi risiko berdasarkan karakteristik tanah, bangunan tahan gempa, dan rencana evakuasi krusial untuk menghadapi gempa lebih besar di masa depan.

Bukan Sekadar Getaran

Gempa Pacitan M5,5/M5,7 adalah lebih dari “getaran pagi”:

1. Sinyal dari sistem tektonik besar yang terbentuk jutaan tahun.

2. Pacitan berada di zona subduksi aktif, bagian busur vulkanik selatan Jawa

3. Struktur geologi lokal mencatat deformasi berulang, menjadikan wilayah rentan gempa berulang.

4. Pemahaman sejarah geologi & risiko jangka panjang penting bagi mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Gempa ini mengingatkan, bumi terus bergerak, dan setiap getaran adalah alarm dari sistem tektonik besar yang memberi kita waktu untuk belajar dan bersiap.

Related posts