Komisi XII DPR RI Soroti Peran Vital PLTGU Muara Tawar, Penjaga Stabilitas Listrik Jawa–Bali

PLTGU Muara Tawar yang memiliki total kapasitas terpasang lebih dari 2.000 MW dan terhubung ke sistem transmisi 500 kV, menjadikannya salah satu tulang punggung pengamanan sistem kelistrikan nasional, terutama di Jabodetabek.(Foto: Istimewa)

Bekasi, HeadlineJatim.com – Keandalan pasokan listrik di wilayah dengan beban tertinggi nasional kembali menjadi perhatian DPR RI. Dalam kunjungan kerja spesifik (27/1) ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Muara Tawar, Bekasi, Komisi XII DPR RI menilai pembangkit tersebut memegang peran kunci dalam menjaga stabilitas sistem kelistrikan Jawa–Madura–Bali (Jamali).

Read More

PLTGU Muara Tawar berfungsi sebagai pembangkit cadangan berespons cepat atau peaker, yang dioperasikan saat terjadi lonjakan beban maupun gangguan sistem. Karakter ini menjadikan Muara Tawar sebagai salah satu penopang utama keandalan listrik, khususnya untuk wilayah Jabodetabek dan kawasan industri di sekitarnya.

Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyebut pembangkit ini memiliki fungsi strategis karena mampu merespons kebutuhan daya secara cepat dalam kondisi darurat. Menurutnya, keberadaan pembangkit follower seperti Muara Tawar sangat menentukan dalam menjaga kontinuitas layanan listrik nasional.

Ia juga menyoroti pengelolaan pembangkit yang dinilai telah memperhatikan prinsip tata kelola dan keberlanjutan.

“Selain andal secara teknis, pembangkit ini dikelola dengan pendekatan yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola,” ujar Sugeng di sela kunjungan.

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto(kiri) dan Wakil Ketua Komisi XII Putri Zulkifli Hasan (dua dari kiri) mengapresiasi PLTGU Muara Tawar sebagai pembangkit strategis yang selalu siap menghadapi berbagai potensi gangguan, termasuk yang disebabkan oleh cuaca ekstrem dan dampak perubahan iklim.

Penilaian serupa disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI, Totok Daryanto. Ia menekankan kesiapan operasional PLTGU Muara Tawar dalam menghadapi potensi gangguan, termasuk risiko cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Sepanjang 2025, tingkat keandalan unit pembangkit ini tercatat berada pada kisaran 94–96 persen.

“Dengan wilayah layanan yang mencakup pusat-pusat konsumsi listrik terbesar di Indonesia, kesiapan pembangkit seperti Muara Tawar menjadi sangat krusial untuk mencegah gangguan pasokan,” kata Totok.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya peremajaan peralatan dan peningkatan teknologi agar efisiensi pembangkit tetap terjaga dalam jangka panjang.

Sementara itu, Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menjelaskan bahwa PLTGU Muara Tawar merupakan salah satu aset strategis yang dioperasikan dengan fokus pada keandalan sistem dan keselamatan kerja.

Pembangkit ini dilengkapi teknologi fast response gas turbine yang memungkinkan pemulihan sistem secara cepat, termasuk saat terjadi gangguan berskala besar.

Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo (tiga dari kiri), Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah (empat dari kiri), Direktur Operasi Pembangkitan Gas Komang Parmita (dua dari kanan), Direktur Oprasi Pembangkitan Batu Bara M Irwansyah Putra (kanan) saat menerima kunjungan Komisi XII DPR RI di PLTGU Muara Tawar. PLTGU Muara Tawar merupakan salah satu aset strategis PLN NP yang dioperasikan dengan mengedepankan keandalan, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan.

Menurut Ruly, peningkatan performa pembangkit tidak lepas dari kompetensi sumber daya manusia yang dimiliki PLN Nusantara Power. Kapabilitas tersebut, lanjutnya, juga menjadi modal untuk berkontribusi dalam peningkatan kinerja pembangkit lain, termasuk milik pihak swasta, guna memperkuat sistem kelistrikan nasional secara keseluruhan.

Dengan kapasitas terpasang lebih dari 2.500 MW dan koneksi ke jaringan transmisi 500 kV, PLTGU Muara Tawar menjadi salah satu tulang punggung pengamanan sistem Jamali. Selain teknologi turbin gas berespons cepat, fasilitas Compressed Natural Gas (CNG) di lokasi ini juga berperan dalam mendukung pemulihan sistem apabila terjadi kondisi darurat seperti pemadaman luas.

Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tantangan transisi energi, keberadaan pembangkit peaker seperti PLTGU Muara Tawar dinilai tetap relevan sebagai penyangga sistem, sembari menunggu penguatan pembangkit energi baru terbarukan dan infrastruktur pendukungnya.

Related posts