Pengembangan ruang terbuka hijau di Terminal Petikemas Surabaya (Foto: Humas TPS)
Surabaya, Headlinejatim – Di tengah hiruk pikuk aktivitas peti kemas dan lalu lalang truk logistik, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus memperkuat komitmen lingkungan. Pelabuhan tersibuk ini resmi memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem kepelabuhanan yang berkelanjutan.
Langkah hijau tersebut diwujudkan melalui pengembangan Taman Adaptif dan Taman Kolaboratif di kawasan terminal. Peresmian inisiatif ini dilakukan pada 14 Januari 2026, sekaligus menegaskan bahwa pertumbuhan industri dan kepedulian lingkungan dapat berjalan berdampingan.
Dengan hadirnya dua kawasan hijau baru ini, total luasan RTH di lingkungan TPS meningkat dari 27.988 meter persegi menjadi 30.897 meter persegi, atau sekitar 3,09 hektare. Luasan ini hampir setara dengan empat lapangan sepak bola standar yang berfungsi sebagai “paru-paru” di tengah kawasan industri.
Fungsi Ekologis dan Penurunan Emisi
Penambahan lahan hijau seluas hampir 3.000 meter persegi ini bukan sekadar pemanis visual. Secara teknis, RTH berfungsi sebagai penyerap emisi dan polutan udara, penurun suhu mikro, serta area resapan air yang krusial bagi keseimbangan ekosistem terminal.
Saat ini, TPS mengelola sekitar 3.500 pohon yang tersebar di seluruh area kerja. Vegetasi tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan lebih dari 400 ton oksigen per tahun—jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen ribuan orang setiap harinya.
Tak hanya itu, keberadaan ruang hijau ini turut membantu menyerap sekitar 77 ton karbon dioksida (CO_2) per tahun. Hal ini berkontribusi langsung dalam menekan jejak emisi dari aktivitas bongkar muat serta pergerakan kendaraan berat di area pelabuhan.
Komitmen Jangka Panjang dan ESG
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menyampaikan bahwa penguatan ruang terbuka hijau merupakan bagian integral dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Bagi kami, keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan layanan kepelabuhanan tetap andal. Penguatan RTH menjadi ikhtiar TPS untuk menyeimbangkan produktivitas pelabuhan dengan kesehatan ekosistem,” ujar Erika dalam keterangannya.
Inisiatif ini sekaligus melengkapi program High Plantation, Zero Emission yang telah dijalankan TPS sejak 2023. Langkah ini sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menjadi standar global.
Ke depan, TPS berkomitmen terus mengembangkan inovasi ramah lingkungan lainnya guna mendukung target penurunan emisi nasional. Kontribusi 400 ton oksigen per tahun ini menjadi bukti nyata bahwa ruang hijau di pelabuhan bukan sekadar taman, melainkan investasi strategis untuk kualitas hidup dan masa depan lingkungan.






