Mengenang Tendangan Kungfu Nigel de Jong dalam Insiden Brutal Liga 4 Jatim

Kungfu kick Nigel de Jong kepada Xabi Alonso pada pertandingan piala dunia 2010. (akun X – FIFA World Cup Stats)

Surabaya, Headlinejatim.com– Dunia sepak bola kembali digegerkan oleh aksi kekerasan di lapangan hijau yang menyerupai salah satu momen paling ikonik sekaligus kelam dalam sejarah Piala Dunia. Insiden “tendangan kungfu” yang dilakukan pemain PS Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar, kepada pemain Perseta 1970, Firman Nugraha, memicu ingatan publik pada aksi brutal Nigel de Jong di tahun 2010.

Read More

Jika Nigel de Jong melakukannya di panggung tertinggi Final Piala Dunia, Hilmi melakukannya di kasta terendah kompetisi sepak bola Indonesia, Liga 4 Jawa Timur. Namun, dari segi dampak dan sanksi, insiden di Stadion Gelora Bangkalan ini dinilai jauh lebih fatal.

Pada Final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, pemain Belanda Nigel de Jong menghantamkan pul sepatunya tepat ke dada gelandang Spanyol, Xabi Alonso. Saat itu, De Jong secara ajaib hanya diganjar kartu kuning oleh wasit Howard Webb, sebuah keputusan yang kemudian diakui Webb sebagai kesalahan terbesar dalam kariernya.

Meski Alonso mampu melanjutkan pertandingan dan membawa Spanyol juara, tendangan tersebut menjadi standar “kekerasan ekstrem” dalam sepak bola modern yang sering dirujuk hingga saat ini.

Liga 4 Jatim: Lebih Brutal dan Fatal

Kontras dengan De Jong, insiden di Liga 4 Jawa Timur pada Senin (5/1/2026) berakhir lebih tragis. Tendangan Muhammad Hilmi tidak hanya membuat Firman Nugraha terkapar, tetapi juga mengakibatkan sang pemain mengalami retak tulang rusuk.

Wasit di Bangkalan bertindak lebih tegas daripada Howard Webb dengan langsung mengeluarkan kartu merah. Namun, dampak hukumannya jauh melampaui kartu merah di lapangan.

Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jatim secara resmi telah menjatuhkan sanksi larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup bagi Hilmi.

Pengamat serta jurnalis bola menilai bahwa sinkronisasi kedua kejadian ini menunjukkan betapa berbahayanya tindakan mengangkat kaki terlalu tinggi (high foot) dalam situasi perebutan bola.

“Apa yang dilakukan De Jong adalah noda bagi sejarah Piala Dunia. Namun, apa yang terjadi di Liga 4 Jatim adalah peringatan keras bagi sepak bola nasional. Sanksi seumur hidup ini adalah pesan bahwa nyawa dan keselamatan pemain jauh lebih berharga daripada hasil pertandingan,” ujar Ahmad Reza jurnalis olahraga saat ditemui di Surabaya.

Sementara Firman Nugraha fokus pada pemulihan cedera seriusnya, karier Muhammad Hilmi dipastikan berakhir prematur. Sebuah akhir yang jauh lebih pahit dibandingkan Nigel de Jong yang masih bisa melanjutkan karier profesionalnya hingga pensiun.

Related posts