-
- Armuji, Wakil Wali Kota Surabaya dengan M. Taufik, Ketum Madura Asli Sedarah (Madas) di Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. (Istimewa)
Surabaya, Headlinejatim.com– Ketegangan antara Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, dengan organisasi kemasyarakatan Madura Asli Sedarah (Madas) resmi berakhir damai. Kesepakatan tersebut tercapai dalam pertemuan mediasi dan dialog terbuka yang digelar di Universitas dr. Soetomo (Unitomo), Selasa (6/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat mengakhiri polemik demi menjaga kondusivitas Kota Pahlawan. Sebagai tindak lanjut, Madas secara resmi akan menarik laporan hukum yang sebelumnya dilayangkan ke Polda Jawa Timur.
Wakil Wali Kota Armuji menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada keluarga besar Madas. Ia mengakui adanya kekhilafan saat menyebut nama organisasi tersebut dalam sebuah pernyataan yang kemudian memicu kegaduhan.
”Saya khilaf menyebut nama ormas. Saya mohon maaf. Tidak ada niat sedikit pun untuk menstigmatisasi Madas,” ujar Armuji di hadapan perwakilan Madas dan akademisi Unitomo.
Armuji menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula dari inspeksi mendadak (sidak) yang ia lakukan berdasarkan laporan warga. Ia mengakui sempat mengira atribut yang dikenakan individu di lapangan adalah logo Madas.
”Saya kira itu logo Madas, ternyata setelah diklarifikasi bukan. Justru tulisannya Gong Xi Fa Cai. Saya mengakui penyebutan itu spontan dan tanpa maksud menyudutkan,”
Ketua Umum DPP Madas, Mohammad Taufik, menyambut baik itikad baik sang Wakil Wali Kota. Ia menegaskan bahwa perdamaian ini adalah jalan terbaik agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik sosial yang berkepanjangan.
”Saya menerima permintaan maaf beliau. Kami akan mencabut laporan di Polda Jawa Timur. Kita memilih untuk bergandengan tangan demi Surabaya,” tegas Taufik usai mediasi.
Taufik juga mengklarifikasi bahwa secara institusional, Madas tidak terlibat dalam peristiwa yang dipersoalkan Armuji pada Agustus 2025 lalu. Menurutnya, ada framing yang merugikan organisasi akibat keberadaan individu beratribut tertentu di lokasi kejadian.
”Kami tegaskan, Madas bukan ormas preman. Tidak ada berita acara atau dokumen resmi yang menyebut keterlibatan organisasi kami dalam kejadian itu. Itu bukan kegiatan organisasi,” tegas Taufik yang baru menjabat Ketum Madas pada Oktober 2025 tersebut.
Di akhir mediasi, kedua pihak berharap kejadian ini menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik. Taufik juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Madura atas stigma negatif yang sempat muncul akibat polemik ini.
Dengan dicabutnya laporan di Polda Jatim, kedua tokoh ini berkomitmen untuk fokus menjaga stabilitas dan gotong royong di Kota Surabaya.





