Cara Membeli Saham untuk Pemula Agar Tidak Boncos dan Cuan Maksimal

Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence. (AI)

Surabaya, Headlinejatim.com – Investasi saham kini menjadi tren di kalangan generasi muda untuk mencapai kemandirian finansial. Namun, tingginya potensi keuntungan (high return) berbanding lurus dengan risiko kerugian yang besar (high risk). Tanpa strategi yang tepat, investor pemula seringkali mengalami kerugian alias “boncos”.

Read More

Untuk menghindari jebakan tersebut, penting bagi investor untuk memahami langkah-langkah masuk ke pasar modal dengan rasional, bukan sekadar ikut-ikutan (FOMO).

Infografis

1. Pilih Sekuritas dengan Biaya Transaksi Rendah

Langkah pertama dalam membeli saham adalah membuka rekening dana nasabah (RDN) melalui perusahaan sekuritas. Pastikan sekuritas yang Anda pilih telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bandingkan biaya fee beli dan fee jual, karena dalam jangka panjang, biaya transaksi yang tinggi dapat menggerus profit Anda.

2. Gunakan “Uang Dingin”

Kesalahan fatal pemula adalah menggunakan uang kebutuhan sehari-hari atau dana darurat untuk membeli saham. Pasar saham memiliki volatilitas yang tinggi. Menggunakan “uang dingin” atau dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat akan menjaga psikologi Anda tetap tenang saat harga pasar sedang berfluktuasi.

3. Analisis Fundamental: Kenali Apa yang Anda Beli

Jangan membeli kucing dalam karung. Sebelum memborong saham, lakukan analisis fundamental minimal dengan melihat:

  • Kinerja Laba: Apakah perusahaan mencetak keuntungan secara konsisten?
  • Rasio Utang: Apakah utang perusahaan masih dalam batas wajar?
  • Dividen: Apakah perusahaan rajin membagikan laba kepada pemegang saham?

Bagi pemula, sangat disarankan untuk memilih saham Blue Chip atau saham LQ45 yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan rekam jejak bisnis yang stabil.

4. Terapkan Strategi Diversifikasi

“Don’t put all your eggs in one basket.” Jangan habiskan seluruh modal Anda hanya pada satu saham atau satu sektor saja. Jika satu sektor sedang turun, Anda masih memiliki cadangan di sektor lain yang mungkin sedang menguat. Diversifikasi adalah kunci utama meminimalisir risiko “boncos” secara total.

5. Tetapkan Target Profit dan Stop Loss

Investasi tanpa rencana adalah spekulasi. Sebelum menekan tombol beli, tentukan di harga berapa Anda akan mengambil keuntungan (take profit) dan di harga berapa Anda akan membatasi kerugian (stop loss). Disiplin pada rencana ini akan melindungi modal Anda dari penurunan harga yang lebih dalam.

Investasi saham benar-benar memerlukan kesabaran. Fokus pada proses belajar dan pemahaman terhadap bisnis perusahaan lebih baik dibandingkan sekadar mengejar fluktuasi harga harian.

Sumber Data:

Bursa Efek Indonesia (IDX): Panduan Berinvestasi di Pasar Modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK): Cerdas Berinvestasi di Pasar Modal untuk Masyarakat.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI): Data Statistik Investor Pasar Modal Indonesia

Related posts