Cheese pizza khas Italia dengan daun basil. (Meta AI)
Surabaya, Headlinejatim.com– Lebih dari sekadar tumpukan adonan, saus tomat, dan keju. Pizza adalah simbol identitas budaya yang melampaui batas negara. Di balik kelezatannya yang sederhana, tersimpan filosofi mendalam tentang demokrasi pangan dan sejarah panjang migrasi manusia.
Filosofi: “Makanan Rakyat” yang Demokratis
Filosofi utama pizza terletak pada sifatnya yang inklusif dan demokratis. Sejak kelahirannya di Napoli (Naples), Italia, pizza dianggap sebagai cibo di strada (makanan jalanan) yang diciptakan untuk memberi makan kelas pekerja dengan cepat dan murah.
Menurut ulasan dari media kuliner Italia, Gambero Rosso, filosofi pizza berakar pada konsep “kesederhanaan yang jujur.” Bahan-bahannya mencerminkan Mediterania yakni gandum, minyak zaitun, tomat, dan daun basil. Pizza mengajarkan bahwa kelezatan tertinggi justru lahir dari bahan-bahan yang paling bersahaja jika diolah dengan teknik yang benar.
Sejarah di Italia dan Legenda Sang Ratu
Meski roti pipih dengan topping sudah ada sejak zaman kuno, pizza modern yang kita kenal lahir di Napoli pada abad ke-18 dan 19.
Titik balik sejarah yang paling terkenal terjadi pada tahun 1889. Mengutip arsip sejarah dari Corriere della Sera (salah satu surat kabar tertua di Italia), pembuat pizza bernama Raffaele Esposito menciptakan “Pizza Margherita” untuk menghormati Ratu Margherita dari Savoy yang sedang berkunjung ke Napoli. Bahan-bahannya dipilih untuk merepresentasikan warna bendera Italia, Merah untuk Tomat, Putih berarti Mozzarella dan Hijau adalah Daun Basil.
Perjalanan ke Amerika dan Ledakan Global
Pizza tidak langsung populer di seluruh Italia. Justru migrasi besar-besaran warga Italia ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 yang menjadi katalisator kepopuleran globalnya.
Berdasarkan laporan dari The New York Times, pizzeria pertama di Amerika, Lombardi’s, dibuka di New York City pada tahun 1905. Pasca Perang Dunia II, tentara Amerika yang kembali dari Italia membawa pulang kecintaan mereka pada pizza, memicu berdirinya rantai restoran pizza cepat saji yang kemudian mengekspor gaya hidup ini kembali ke seluruh dunia.
Status Warisan Dunia UNESCO
Pada tahun 2017, seni pembuat pizza ala Napoli (L’Arte del Pizzaiuolo Napoletano) resmi ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Hal ini menegaskan bahwa pizza bukan sekadar komoditas komersial, melainkan ekspresi sosial yang melibatkan lagu, tarian, dan interaksi komunitas yang sakral di Napoli.
Seiring dengan penyebarannya ke seluruh benua, pizza mengalami evolusi yang memicu perdebatan antara tradisionalisme dan inovasi.
Era 1980-an dan Ekspansi Waralaba di Indonesia
Di Indonesia sendiri “penyebaran” pizza secara masif dimulai pada era 1980-an. Mengutip catatan bisnis dari media ekonomi Forbes Indonesia, kehadiran pizza di Indonesia dipelopori oleh masuknya rantai restoran internasional.
Pizza Hut menjadi pionir utama dengan membuka restoran pertamanya di Gedung Djakarta Theatre pada tahun 1984. Kehadirannya saat itu membawa konsep American-style pizza yang memiliki adonan lebih tebal dan mengenyangkan dibandingkan versi tipis ala Italia asli. Strategi ini sangat cocok dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang menganggap makanan berbahan dasar tepung sebagai pengganti karbohidrat utama (nasi).
Filosofi pizza di Indonesia mengalami pergeseran unik yang sering diulas oleh sejumlah kritikus kuliner (food critic). Di negara asalnya, pizza sangat menjaga kemurnian bahan. Namun di Indonesia, pizza beradaptasi dengan lidah lokal.






