Surabaya, headlinejatim.com- Saat teman-temannya fokus mengerjakan soal ujian, Nayla Firzatullah Azmi hanya bisa menangis dalam hati. Mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini tengah mencemaskan ayahnya yang terjebak banjir setinggi 3 meter di Bireuen Aceh – dan sempat hilang kontak selama 10 hari, sampai akhirnya mendapatkan kabar bahwa ayahnya selamat dan berada di pengungsian.
Kesedihan akibat banjir di Aceh dan Sumatera tak hanya dirasakan oleh korban di lokasi kejadian, melainkan juga mahasiswa perantauan di Surabaya. Nayla, yang berasal dari Bireuen, terlihat tak bisa menutupi kesedihannya – meskipun fisiknya sedang sibuk menyelesaikan studi, hatinya selalu terbang ke kampung halamannya.
“Saat itu ayah saya sedang menginap di mess tempatnya bekerja, yang lokasinya cukup jauh dari rumah kita di Bireuen. Dia bekerja sebagai petani di situ,” ceritanya ketika ditemui.
Tanpa peringatan, banjir melanda kawasan itu dan membuat Nayla kehilangan kontak dengan ayahnya selama seminggu lebih. “10 hari saya nggak ada kabar sama sekali. Pikiran saya cuma putus asa, nggak tahu harus bertanya ke mana,” ujar Nayla, mahasiswi Semester 3 Jurusan Biologi.
Kemudian, pada hari kemarin, kabar tiba secara tiba melalui chat WhatsApp. “Hati saya langsung lega ketika melihat pesan ayah yang bilang dia selamat. Dia bilang awalnya banjir cuma 2 meter, tapi pas dia naik ke atap, udah jadi 3 meter. Sekarang dia udah dievakuasi ke pengungsian,” katanya dengan nada lega.
Namun, kebahagiaannya tidak bertahan lama. “Setelah kirim chat itu, ayah saya lagi-lagi tak terhubungi. Keluarga lain saya juga selamat, tapi rumah juga kena banjir,” imbuhnya, masih terlihat cemas.
Kini Nayla sedang menjalani minggu-minggu ujian dan mengaku sulit fokus karena selalu teringat keluarga. Untungnya, ITS tak tinggal diam. Mahasiswa yang keluarganya terkena dampak banjir diberi fasilitas khusus, mulai dari pendampingan psikolog hingga pembebasan biaya kuliah (UKT) sementara.
“Jujur, selama ujian saya bingung banget karena khawatir ayah. Tapi setelah dapat kabar selamat, saya mulai bisa fokus lagi. Fasilitas psikolog dari kampus itu sangat membantu buat saya yang butuh tempat ngobrol,” tutupnya.






